aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Ibu adalah ‘Tuhan’

ibu

Judul tulisan ini memang sangat provokatif. Tapi judul inilah yang melintas pertama kali di pikiran saya. Maka, saya minta kawan-kawan cukup rendah hati dan bersabar untuk memahami dari kacamata saya sebelum berasumsi macam-macam tentang judul dan tulisan ini, pernah belajar makna denotasi, konotasi dan majas kan?🙂

Suatu saat Albert Einstein dalam sebuah wawancara pernah ditanyai hal ini : “Apakah anda percaya Tuhan?”. Lalu Einstein menjawab : “”Saya percaya pada ‘Tuhan-nya Spinoza’ yang menampakkan diri-Nya dalam harmoni keteraturan atas keseluruhan yang ada. Bukan sosok Tuhan yang menyibukkan diri-Nya dengan nasib dan tindakan-tindakan manusia”. Bagi Einstein, Tuhan merupakan Kecerdasan Tertinggi yang menampakkan dirinya dalam harmoni dan keindahan alam. Maka, kemanapun mata memandang di semesta ini, dalam wujud sebesar dan sekecil apapun ‘wajah Tuhan’-lah yang terlihat.

Belakangan saya semacam berfikir, di antara hal-hal materi dan immateri di semesta ini, Ibu adalah ‘wajah Tuhan’ yang paling dekat.  Wanita-wanita seluruh dunia seharusnya berbangga, sebab dalam diri wanita sangat jelas ‘sifat-sifat Tuhan’, apalagi jika wanita tersebut telah menjadi Ibu. Wanita adalah wadah, yang menjadikan seorang anak manusia ‘ada’ lewat rahimnya. Wanita adalah keindahan. Wanita adalah yang senantiasa dipuja. Wanita adalah yang berkuasa– coba cek alur sejarah dunia, beberapa perang terbesar, pengkhianatan terbesar dan kegagalan terbesar dalam politik terjadi karena wanita, contoh paling sederhana coba tonton film Game of Thrones. Lebih lanjut lagi, setelah wanita melengkapi kodratnya menjadi seorang Ibu. dalam rahim Ibu, dibawanya ‘semesta’ kecil lainnya. Ibu adalah pengasih. Ibu adalah penyayang. Ibu adalah yang paling kuat. Ibu adalah yang paling sabar. Ibu adalah yang paling ikhlas. Ah, jika saya sebut satu persatu Asma-Nya, tentulah akan mayoritas akan saya temukan juga dalam diri Ibu. Mungkin itu juga sebabnya “Surga berada di telapak kaki Ibu.”

Maka cinta Ibu juga seperti cinta Tuhan. Ada orang yang mendapatkan cinta yang lembut. Ada pula yang mendapatkan cinta yang keras. Tapi pada puncaknya, akan kita sadari juga, mau lembut atau keras itu cinta juga. Saya pribadi belajar dari cinta yang keras– jujur, saya iri pada cinta yang lembut. Tapi, dari kekerasan cinta inilah akhirnya saya menerima dua sisi dari cinta dan dua sisi dari setiap aspek hidup tanpa membenci satupun– seperti pada kenyataannya bahwa gelap dan terang adalah suatu kesatuan, kelengkapan, yang baru bisa dipahami setelah kedua sisi itu diraba dan dicermati. Bagi saya wajah Ibu adalah wajah Syiwa, bagi yang lain mungkin adalah wajah Wisnu. Wisnu adalah Ibu dengan yang lembut, yang membangun dan memelihara dengan kelembutan. Syiwa adalah Ibu dengan cinta yang keras dan “menghancurkan”. Tapi yang seringnya lupa kita pahami, sebenarnya Syiwa adalah yang paling “membangun”, sebab dari “kehancuran”-lah akan terbangun sesuatu yang baru. Syiwa dan Wisnu seperti paradoks betapa membangun-mengahancurkan adalah suatu kesatuan. Seperti kesetimbangan yin-yang, didalam yin ada yang, di dalam yang ada yin, dan keduanya adalah kesetimbangan dari semesta. Demikianlah Ibu, yang didalamnya terdapat tiga wajah Brahma (yang meng-ada-kan)–Wisnu (yang memelihara)–Syiwa(yang menghancurkan).

Begitupun cintaNya, jika ada yang merasa terhancurkan karena cinta yang keras dan menghempasmu menjadi serpihan dalam jalan hidupmu, bersiaplah–karena engkau akan membangun dirimu lagi– sebentuk dialektika dalam perjalanan hidupmu. Sebab untuk mengetahui tentang CInta rupanya kita harus tidak berfikir soal Cinta dan ingin mendapatkan Cinta. Rupanya kita mesti berjalan saja, mengikuti gelombang kehidupan, mengarahkan kemudi kapal tapi tanpa ‘melawan’, berencana tapi tanpa mengatur, hingga kita temukan arus kita sendiri, hingga kita lepaskan semua tujuan untuk mendapatkan Cinta, barulah kita dapatkan itu Cinta.

Maka ‘sujud’ kepada Ibu adalah sujud kepada Tuhan.

Mencintai Ibu adalah mencintai Tuhan.

Mengalah pada Ibu adalah bentuk keikhlasan kepada semua rencana Tuhan.

Tidakkah engkau berbahagia wahai para wanita?

—-

Ibu
D. Zawawi Imron

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

Ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

(Batang-Batang – Madura)

3 comments on “Ibu adalah ‘Tuhan’

  1. afatsa
    October 9, 2013

    sayangnya ada perempuan yang takkan pernah mencicipi rasa sebagai ibu😦

    • Septia Agustin
      October 9, 2013

      tapi ibu bagi saya bukan sekedar darah atau kesamaan dna kok🙂

      • afatsa
        October 9, 2013

        Sip!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 1, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: