aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Merasionalisasikan Kecantikan

topeng

Malam ini saya cukup geregetan. Sebagian karena pengaruh software  yang dari beberapa jam yang lalu selalu gagal saya instal, sebagiannya lagi karena saya cukup muak melihat konten salah satu situs kompetisi kecantikan tingkat dunia. Tampaknya, bukanlah kaum adam yang ‘menjatuhkan’ martabat perempuan, melainkan kebanyakan perempuan sendiri. Ah, saya bukanlah seorang feminis total, meskipun saya cukup sering debat dengan beberapa lelaki di kandang gajah karena merasa disana perempuan masih didiskriminasi. Tapi kali ini saya berpikir, usaha perempuan untuk menorehkan identitas ‘cantik’ di dirinya kebanyakan konyol, tidak logis dan malah menjatuhkan martabat perempuan itu sendiri– semacam ; sepertinya banyak perempuan yang tidak bisa pakai otak *semoga asumsi ini salah*.

Jebakan Industri Kecantikan

Nyalakanlah televisi, maka ditiap jadwal iklan akan kita dapatkan iklan produk-produk kecantikan. Pergilah ke supermarket, maka akan kita dapatkan koridor penuh produk-produk kecantikan. Bukalah majalah wanita, maka akan kita dapatkan pula trend fashion paling up to date. Tontonlah sinetron, moviemusic show maka kita akan mendapatkan pula standard kecantikan tertentu.

Tidak dapat disangkal, perempuan adalah pasar paling menarik sehingga dewasa ini industri kecantikan dan industri fashion berkembang tajam. Apalagi dijaman postmodern seperti sekarang, dimana ‘identitas’ dan ‘eksistensi’ berada diatas, melebihi fungsi dari sesuatu.

Industri kosmetik di Indonesia saat ini berkembang pesat, dari data International Cosmetics Club menyebutkan bahwa impor produk kosmetik mencapai Rp 4 miliar sampai Rp 10 miliar per bulan. Bahkan, pada tahun 2006 impor selama setahun mencapai Rp 1 triliun. Sementara itu untuk pasaran lokal, menurut Persatuan Kosmetik Indonesia (Petosmi) omzet penjualan kosmetik bisa mencapai Rp 40 miliar untuk satu perusahaan besar dalam satu bulan.

Saat ini perkembangan industri kosmetik Indonesia tergolong solid. Hal ini terlihat dari peningkatan penjualan kosmetik pada 2012 14% menjadi Rp 9,76 triliun dari sebelumnya Rp 8,5 triliun, berdasarkan data Kementerian Perindustrian.
Produk kecantikan dan perawatan tubuh global pada 2012 mencapai US$ 348 miliar, tumbuh tipis US$ 12 miliar dibanding tahun sebelumnya berdasarkan data Euro Monitor. Meskipun 2012 perekonomian dunia masih diwarnai krisis keuangan seperti yang terjadi di kawasan Eropa, maupun perlambatan ekonomi China, produk-produk kecantikan bermerek terbukti masih dapat bertumbuh dengan solid. Produk kecantikan bermerek diprediksi tumbuh 6% tahun ini, lebih tinggi dari pertumbuhan produk kosmetik umum sebesar 4%.

wow! kekuatan perempuan sebagai pasar memang hebat! bahkan ditengah krisis global industri kecantikan cenderung maju. Mungkinkah kebutuhan perempuan untuk jadi cantik saat ini  sudah menjadi kebutuhan primer? atau jangan-jangan malahan lebih primer daripada sandang-pangan-papan? hihihi

Dari mana datangnya keinginan untuk menjadi cantik?

L’existence précède l’essence (eksistensi ada mendahului esensi) — Jean Paul Sartre

Bagi Sartre, esensi manusia tidak pernah final terdefinisikan. Setiap kali manusia mencoba mendefinisikan esensinya/hakikat dirinya, dia pasti sudah beranjak ke tahap eksistensi lain. Maka adalahmanusiawi, jika dalam hidup kita akan membentur pertanyaan : “Saya ini siapa?”. Tentunya jawaban dari pertanyaan ini tidaklah secetek identitas di KTP seseorang. Setiap manusia yang lahir adalah manusia yang terlempar ke dunia yang tanpa isi dan tanpa arah. Pada permulaan wujudnya manusia itu bukan apa-apa dan ia tidak akan menjadi sesuatu kecuali setelah menjadi apa yang menjadi pilihannya.

Hasrat manusia mencari identitas (eksistensi) ini dapat pula kita temukan dalam Teori Kebutuhan Maslow. Di puncak piramida maslow akan kita temukan kebutuhan manusia untuk diakui. Well, mungkin sepertinya maslow perlu merevisi teorinya, sebab melihat fenomena belakangan, tidak sedikit orang-orang yang meletakkan kebutuhan akan eksistensi ini berada lebih dasar dibanding kebutuhan primer (sandang-pangan-papan) — semacam fenomena postmodernisme sepertinya.

Lalu apa hubungannya dengan kecantikan?

Menjadi cantik adalah identitas (eksistensi) tersendiri bagi perempuan. Sedihnya, cantik disini adalah cantik yang dikendalikan pasar. Saya masih ingat, ketika saya di SD dulu, definisi kecantikan wanita Indonesia lewat iklan televisi masih wanita dengan kuli kuning langsat atau sawo matang. Sekarang coba perhatikan iklan-iklan yang ada, kebanyakan memvisualisasikan bahwa cantik adalah kulit putih bersinar.

Mungkin sama dengan identitas yang tersematkan di diri lelaki lewat rokok mereka. Semisal marlboro atau garpit adalah tipikal rokok lelaki macho, magnum tipikal lelaki eksmud dan rokok kretek murah biasanya dihisap para kuli, supir (dan sebagian teman-teman saya–mahasiswa berkantong terbatas :)) ). Ada trademark dan identitas tersendiri dalam tiap merk. 

Sama juga definisi cantik yang berkembang belakangan, kulit putih bersih, kutilang (kurus-tinggi-langsing), gigi rapi–kalau perlu pakai kawat gigi warna-warni agar trendi, rambut hitam-lurus-berkilau, bibir merah-merekah-basah, hidung mancung, baju trendi ala artis terkini–disini ada berbagai macam mazhab, ada mazhab korea hingga mazhab hollywood. Bagi yang merasa ‘trend’ itu sudah diikuti banyak orang, akan memasang identitas hipster atau hippies. Ya, semua itu kita lakukan agar kita mendapatkan ‘identitas’ dari apa yang kita pakai, sehingga dalam sekali lihat orang-orang akan menyematkan identitas: cantik, fashionable, rocker, geek, dangdut, atau apapun itu. Itulah kehausan kita terhadap identitas — bahkan tanpa kita sadar identitas tersebut ‘dipasangkan’ dan dikendalikan oleh media di sekitar kita — identitas ini adalah semacam labirin eksistensi.

Lalu jika “ada” diri kita, kita definisikan dari ‘kemana arus identitas dunia mengalir’, mungkin kita tidak akan pernah menemukan diri kita yang sebenarnya. Saya sangat geregetan melihat anak-anak kecil jaman sekarang yang menjadi “dedek rasa tante”. Umur baru awal belasan tahun namun mukanya sudah dipoles make up sana sini. Tanpa sadar mereka menjadi korban pasar. Cobalah sesekali perhatikan perempuan-perempuan disekitar, ada berapa banyak ‘style’ yang dipakai? Pasti ada kecenderungan style perempuan-perempuan ini sama. Contoh lain, coba cek berapa banyak perempuan yang memakai baju minim ditengah malam yang super dingin? Atau memakai heels tinggi dan runcing untuk sekedar jalan kaki? Atau kecenderungan untuk berbelanja tiap kali ada trend baru baju-baju, sepatu dan tas? Padahal, jika kita berpikir berdasarkan fungsi dan esensi barang tentu hidup perempuan tidak jadi seribet itu. Ah kebanyakan perempuan memang sudah tenggelam dalam labirin eksistensi cantik ala pasar ini. Banyak kehilangan dirinya sendiri–bahkan sebelum menemukan dirinya tersebut.

Jadi, Apa definisi cantik?

cantik   can.tik
[a] (1) elok; molek (tt wajah, muka perempuan); (2) indah dl bentuk dan buatannya: meja ini — sekali
[Mk a] (1) suka bersikap menarik perhatian laki-laki; genit; centil: anak gadis itu — sekali; (2) amat suka bersetubuh; gasang
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/cantik#ixzz2g2QsZL00

Hemmm…. bertanya cantik itu apa sebenarnya setara dengan bertanya ganteng itu apa. Sebagai contoh, saya dan teman perempuan saya memiliki definisi berbeda tentang lelaki ganteng. Biasanya, yang saya sebut ganteng dan menarik ditolak habis-habisan oleh teman saya, begitupun sebaliknya. Tentang definisi cantik ini pun pernah saya tanyakan kepada teman-teman lelaki saya– karena kuliah di kandang gajah, kebanyakan teman saya memang lelaki. Dan masing-masing memang punya definisi dan selera masing-masing.

Lalu darimana datangnya selera tersebut?

Persoalan selera adalah persoalan persepsi–yang sangat dipengaruhi oleh psikologi. Bagi orang-orang yang tidak cukup kenal dirinya sendiri, persepsi akan dipengaruhi oleh hal paling cetek dilingkungannya–yaitu bagaimana sesuatu terlihat diluar (secara fisik). Bagaimana kecenderungan penampilan orang-orang disekitarnya pada saat dia tumbuh, artis-artis yang sering dia lihat, trend yang sedang berkembang dijamannya, bahkan tokoh kartun favoritnya. Saya ingat, dulu waktu keranjingan dorama jepang, korea dan sekitarnya, saya beranggapan beberapa lelaki bintang dorama tersebut ganteng, atau betapa charmingnya steven gerrard di lapangan atau betapa dinginnya kimi raikkonen di podium — itu ganteng! hahahaha. *untuk gerrard dan raikkonen sampai sekarang pun saya masih berpikir mereka ganteng, untuk artis2 dorama korea dan jepang–saya sudah tobat :p*

Bagi orang-orang yang sudah cukup kenal dirinya sendiri, persepsi ini akan dibentuk oleh pemahaman mereka terhadap karakter manusia. Biasanya, ini dipengaruhi oleh karakter mereka sendiri, buku-buku yang dibaca, kejadian-kejadian yang dialami, dan alter ego diri sendiri.

Ada pula karena pengaruh kebiasaan. Seperti bentuk muka ataupun karakter yang mirip dengan orang-orang terdekat–seperti ibu, ayah atau saudara. Ataupun karena idea tentang perempuan ideal yang terbentuk di kepala mereka yang disebabkan oleh pengalaman buruk di masa lalu.

Secara biologis, seorang pejantan akan tertarik kepada betina yang terlihat paling subur dan bisa memberikan keturunan–karena kebutuhan seks dan kebutuhan mendapatkan keturunan adalah hal yang hewani dalam diri manusia. Maka wajar pula jika para lelaki menyukai wanita-wanita dengan ukuran dada dan pinggul diatas rata-rata, karena secara biologis hal ini mengindikasikan kesuburan seorang wanita.

Secara antropologis, kecantikan ternyata sangat dipengaruhi oleh letak geografis dan budaya sekitar. Seperti wanita-wanita china jaman dulu yang akan jadi cantik bila berkaki kecil, maka anak perempuan akan dipaksa memakai sepatu yang jauh lebih kacil dari ukurannya. Atau di Jepang, tampilan para geisha yang wajahnya ditaburi bedak putih adalah cantik — maka dulu, para geisha membuat bedak tersebut dari kotoran burung yang kering dan ditumbuk, lalu ditaburi ke mukanya. Di Romawi kuno dan Mauritania justru wanita dengan tubuh besar yang dianggap cantik, karena tubuh besar di jaman itu merupan perlambang kesejahteraan dan kesuburan. di Ethiopia, wanita dengan luka cakar adalah cantik, maka para wanita dengan sengaja membuat luka cakar ditubuhnya, sebab disana lelaki katanya lebih horny melihat wanita dgn luka cakar. Sebaliknya di Jepang modern, wanita cantik adalah wanita dengan kulit mulus. Di Brazil, wanita akan cantik dengan tubuh langsingnya, maka Brazil adalah salah satu negara dengan tingkat konsumsi pil diet terbesar di dunia, wanita-wanita Brazil modern rata-rata menghabiskan 3/4 pendapatan bulannya untuk kecantikan.

Begitulah, terminologi ‘cantik’ sebenarnya dipengaruhi banyak hal. Tergantung para perempuan mau ikut ‘arus’ yang mana. Tapi bukankah lebih baik membuat arus sendiri dan tidak terjebak dalam labirin eksistensi sekitar dan pasar? Bukankah lebih baik menjalankan sesuatu krn tau esensinya terlebih dahulu? Bukankah lebih baik mengetahui cantik ala diri sendiri terlebih dahulu? Maka kenalilah diri sendiri agar tidak terjebak dalam labirin ini. Jangan jadi perempuan murahan yang tak punya identitas orisinil!

To be nobody but yourself in a world that doing its best to make you somebody else, is to fight the hardest battle you are ever going to fight. Never stop fighting. — E.E. Cummings

4 comments on “Merasionalisasikan Kecantikan

  1. adrianpradana
    September 26, 2013

    Reblogged this on Entre Nous and commented:
    sayang kalau nggak di reblog :p

  2. lovianettesherry
    October 8, 2013

    Reblogged this on Journey of Lovianette Sherry and commented:
    good point

  3. sangat menarik sekali artikelnya. semoga bermanfaat bagi yang mencari informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 27, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: