aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Bapak Tukang Becak, Para Sarjana nan Durjana dan Lyceum

blog_zen

Sekitar satu minggu yang lalu, saya mendapatkan pelajaran berharga dari seorang bapak tukang becak yang mangkal di depan stasiun bandung. Malam itu, saya dengan sepeda motor menjemput seorang kawan yang baru pulang dari lapangan. Sambil menunggu si kawan saya bertukar sapa dan berbincang-bincang dengan bapak ini–yang bahkan namanya lupa saya tanyakan. Beliau sudah di Bandung dari tahun 68, sudah menarik becak dari sekitar 10 tahun yang lalu dan selalu mangkal di depan stasiun Bandung, beliau merantau dari Lasem, sebab bertani sudah tidak menguntungkan lagi. Beliau mendongengkan tentang Bandung yang dulu, sejarah pembangunan Bandung dari tahun 68 dulu. Betapa dinginnya Bandung yang dulu, pergeseran pusat kota Bandung dari 40 tahunan yang lalu, bahwa kawasan Suci dulunya cuma sawah dan jalan setapak saja, bahwa dulunya stasiun Bandung ini sangat kecil, cuma ada satu jalur jalan saja, betapa dulunya jalanan disini sepi, tidak banyak kendaraan lalu lalang– lalu dalam 40 tahun, atas nama pembangunan semua berubah total.

Beliau ini bagi saya adalah seorang sarjana studi pembangunan, kehidupan adalah ruang kuliahnya, semesta adalah universitasnya. Beliau mengingatkan bahwa dalam 40 tahun ini, orientasi pembangunan disekitarnya adalah infrastruktur, bukan manusia. Yang menarik, hipotesa ini tidak beliau tarik dari penghasilan sehari-hari — sungguh hebat beliau ini, ‘ego’ kebutuhan materinya tersingkirkan yang bahkan kebanyakan kawan2 saya yang sudah sarjana belum bisa faham hal ini. Dalam 40 tahun ini, kata beliau, sudah banyak ‘pekerjaan’ yang hilang. Apalagi saat ini orang-orang sekolah hanya untuk ‘bekerja’. Ribuan sarjana mendaftar menjadi PNS bukan untuk mengabdikan ilmu kepada masyarakat, tapi untuk bertahan hidup, sekolah sudah salah kaprah katanya. Maka, selama orientasi dari lulusan perguruan tinggi hanyalah sebatas ‘materi’, dalam 40 Tahun lagi–jika orientasi pembangunan masih berpusat pada benda, bukan manusia– entah berapa banyak pekerjaan yang dianggap ‘remeh’ yang akan hilang. Tidak akan ada ‘sarjana’ yang mau melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil karena semua ingin kerja enak dengan gaji tinggi. Para sarjana justru akan menjadi durjana, karena hidupnya hanya sebatas materi saja– barisan manusia-manusia zombie, yang jasadnya ada tapi ruhnya entah kemana.

Udah Mbak, nggak perlu mikirin yang lalu-lalu, sekarang lebih baik mikirin gimana anak-cucu kita nanti. Sekarang orang-orang hidup ngejar materi, bukan manusia itu, Mbak. Saya memang cuma tukang becak, tapi saya punya harga diri. Ini saya lakukan dengan senang hati, nggak kayak para sarjana.

— Bapak Tukang Becak

Kecenderungan para (calon) sarjana untuk menjadi durjana ini juga saya sadari beberapa bulan yang lalu. Hari itu hujan badai sangat lebat. Saya dan seorang kawan tengah menyelesaikan laporan di sebuah restoran cepat saji di Simpan Dago. DI sekitaran saya banyak mahasiswa, kurang lebih seumuran saya. Bahkan, tepat di samping saya ada sekumpulan mahasiswa dengan literatur sosiologi tengah mengerjakan laporan. Banyak mahasiswa kandang gajah yang sering saya lihat, kebetulan saat itu sedang ada pertandingan sepak bola, mata kebanyakan orang tidak teralihkan dari televisi di restoran cepat saji itu. Lalu tiba-tiba dua orang pemulung masuk, pasangan suami istri, si suami *maaf* mengalami keterbelakangan mental, sambil membawa tumpukan rongsok yang oleh satpam restoran tersebut dilarang untuk dibawa masuk. Mereka memesan satu paket makanan di restoran cepat saji tersebut.

Saya tertegun, bagi saya ini adalah fenomena ‘kemanusiaan’ yang unik. Tapi rupanya tidak begitu dengan (calon) sarjana ilmu sosial dan kebanyakan mahasiswa kandang gajah di sekitar saya. Bahkan dikala pasangan pemulung itu duduk disebuah meja, beberapa kawan kandang gajah saya beranjak dari sana, seakan-akan mereka jijik dengan keadaan fisik dua pemulung itu. Hati saya sakit, saya bahkan menangis melihatnya. Para (calon) sarjana ilmu sosial disamping saya bahkan tidak menyadari keberadaan dua orang pemulung di tempat yang tidak lazim itu–padahal seharusnya merekalah yang paling peka dan paling ahli tentang fenomena sosial yang terjadi di sekitar.

Saya kesal, melihat kawan2 kandang gajah saya seakan-akan ‘anti’ dengan mereka, dan lebih memilih fokus nonton bola saja. Waktu itu memang Indonesia bertanding– tapi ternyata nasionalisme kawan-kawan saya ini hanyalah nasionalisme yang kosong. Selama mereka ada di sana, satpam restoran cepat saji itu selalu mengawasi– seakan-akan mereka mempunyai kecenderungan berbuat kriminil. Saya pribadi akhirnya meninggalkan pekerjaan saya, duduk disamping mereka, sekedar bertukar sapa dan mentraktir satu porsi lagi makanan buat mereka– mereka berdua, makanannya cuma ada satu, itupun akhirnya dibungkus setelah setengah dimakan, mana mungkin saya tega melihat itu semua. Dan saya yang mendekati mereka dilihat dengan tatapan yang aneh oleh para (calon) sarjana ini, padahal kita sama-sama manusia. Saya sungguh tidak paham lagi. Ruang kelas rupanya memang telah gagal mengajarkan kebijaksanaan dari ilmu. Pendidikan tak lagi memanusiakan manusia, memerdekakan manusia apalagi menyelaraskan manusia dengan lingkungan. Pendidikan tinggi rupanya telah mengalienasi manusia dari nilai kemanusiaannya, untuk bisa peka terhadap sekitar– agar pendidikan mengabdikan dirinya pada kemanusiaan. Karena para (calon) sarjana telah berubah menjadi durjana, lebih mementingkan mengerjakan laporan, tugas, deadline daripada ‘sekedar’ memperhatikan sekitar. Maka jangan bangga bergelar sarjana!

Saya telah lama menolak sistem pendidikan di kandang gajah ini, karena ‘belajar’ di ruang kelas sudah tidak ada ‘rasanya’, hasrat ingin tahu dan kesenangan belajar sesuatu yang baru tak lagi saya temui di ruang kelas–tak lagi menimbulkan penyadaran.

true knowledge existed within everyone and needed to be brought to consciousness

-Socrates

Sekolah yang saya dambakan persis seperti apa yang dilakukan Socrates kepada murid-muridnya. Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan penggalian untuk memicu pikiran-pikiran murid-muridnya guna memahami makna kehidupan, kebenaran, dan keadilan secara lebih mendalam. Dari sinilah segala perkembangan sains, teknologi,seni akan menemukan akarnya kembali — kepada manusia dan kemanusiaan.

Dulu, di jaman Yunani kuno, ada dua sekolah yang terkenal, yaitu Academia yang dirintis oleh Plato dan Lyceum yang dirintis oleh Aristoteles. Saya sangat tertarik dengan filosofi Lyceum. Lyceum dikenal dengan nama lain, khususnya di kalangan Arab, dengan nama Masysyaiyyin artinya mereka yang banyak berjalan. Ini karena konon guru dan para pelajar melangsungkan pelajarannya sambil berjalan. Kebiasan melangsungkan pelajaran sambil berjalan ini tidak hanya terbatas di kalangan pelajar sekolah Aristoteles saja, tapi juga umum di semua sekolah Yunani. Sekolah Aristoteles ini terkenal dengan nama “Para Pejalan”

Hal ini sangat dekat dengan pendidikan hadap masalah  ala Paulo Freire. Bahwa pendidikan harusnya berada pada ‘ruang kehidupan’. Saya mengartika pendidikan ini sebagai pendidikan yang ada ‘rasanya’. Tentu berbeda, seorang petani tamatan sekolah dasar yang pada akhirnya bisa membuat sistem irigasi sendiri karena belajar dari kehidupannya, dan seorang sarjana sipil yang bisa membuat sistem irigasi tanpa cela karena belajar di ruang kelas. Bagi saya, si petani ini jauh lebih hebat daripada si sarjana teknik sipil. Produk engineeringnya–segimanapun sederhananya– turun dari sebuah konsep filosofis, akan interaksi manusia dengan alam. Sedangkan kebanyakan sarjana, memang menang dari segi kompetensi, tapi tak banyak yang bisa sadar makna filosofis dari itu semua–tak banyak yang benar-benar faham, kenapa ada produk teknologi, seni atau penelitian sains terbaru. Mungkin itu pula sebabnya produk-produk kebijakan di Indonesia gagal– sebab para sarjana tak begitu paham tentang masyarakat yang jadi ‘objek’ kebijakan, banyak kompetensi, tapi tak banyak yang punya hati.

Lalu, jika ruang kelas memang tidak cukup, keluarlah dari sana sejenak, jangan hidup di menara gading melulu. Masuklah ke dalam lorong-lorong kumuh kota Bandung. Sapalah orang-orang, berdiskusilah dengan tiap orang, belajarlah dari tiap orang tanpa terikat status apa-apa, bukankah pelajaran pertama dari sains adalah konsep egaliter? jam yang salah saja akan benar dua kali dalam sehari, apalagi tiap manusia.

Pada akhirnya, guru-guru, buku-buku, teman-teman cuma dapat ‘sekedar’ mengajarkan metode, memberikan informasi, membagi pengalaman, sedang untuk mendapatkan kebijaksanaan dari ilmu, ada yang harus kita alami sendiri. Maka keluarlah dari ruang kelas, temui banyak orang, alamilah banyak hal, biar kita tak jadi sarjana yang durjana.

durjana  dur.ja.na
[kl] (1) a jahat: perbuatan — , perbuatan jahat; (2) n kejahatan; (3) n penjahat
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/durjana#ixzz2g3bfr3h3

Sajak Sebatang Lisong

oleh W. S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membenturi meja-meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita-wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah bangsa yang malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti diup-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat para penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.

Kita harus mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
menghayati sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apalah artinya renda-renda kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

Kepadamu, aku bertanya!

tulisan ini adalah pengingat bagi saya pribadi, biar saya tidak lupa, kemana akar pengetahuan dan pengabdian saya sebagai (calon) sarjana.

16 comments on “Bapak Tukang Becak, Para Sarjana nan Durjana dan Lyceum

  1. Maximillian
    September 27, 2013

    Sarjana from kandang gajah are overrated🙂

    • Septia Agustin
      September 27, 2013

      huahaha.. jangan gitu dong kak.. nanti saya makin malas nyelesaikan TA :p

      • Maximillian
        September 28, 2013

        Diploma for your beloved parents, knowledge and skill for your life survival. Finish what you’ve started before, keep learning after school …

      • Septia Agustin
        September 28, 2013

        hahaha… hatur nuhun sudah mengingatkan kak🙂

  2. littlenajmah
    October 10, 2013

    keren tulisannya…
    salam kenal ya… btw saya dari lasem lho…🙂

    • Septia Agustin
      October 11, 2013

      waaah… terima kasih sudah berkunjung..
      salam kenal juga ya mbak🙂

  3. Vioni Derosya
    October 11, 2013

    jadi catatan buat udh lulus jg😀 thanks for reminding us

  4. Candra Nugroho
    October 11, 2013

    ini, kak.. ane ngarang buku tentang pendidikan di Indonesia.. kalau minat bisa dibaca, kak.. ntar tak tunggu tanggapan dari kakak ya..🙂

    salam kenal.. saya dari Jogja🙂

  5. makhluklemah
    October 11, 2013

    Tulisannya cakep..😀
    Terlampau lama saya menunggu tulisan2 seperti ini.🙂

    • Septia Agustin
      October 11, 2013

      wah… terima kasih banyak.. semoga tulisan saya bermanfaat🙂

  6. Rizal Rafika
    January 30, 2014

    Bgus tulisannya.,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 27, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: