aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Mereka Bilang Saya Lilin

burning_candle

 

Saya: “Mil, kalau suatu saat nanti gw ‘berkhianat’ dengan melepas kewarganegaraan Indonesia trus hidup di  luar negeri, lo bakal marah sama gw nggak?”

Emil: “Kalo gw sih bakal senyum aja waktu lo melakukan itu, Sep”

Saya: “Lah, gimana kalau ternyata gw melakukan itu dengan alasan cetek, semisal karena ketemu cowok kece versi gw gitu”

Emil: “Sep, orang kayak lo gw yakin nggak akan ninggalin mimpi-mimpi lo gitu aja”

Saya: “Lah, gimana kalau gw malah berubah total”

Emil: “Kalo lo sampai ngerubah mimpi-mimpi lo, berarti cuma karena lo menemukan mimpi yang lebih besar atau metode yang lebih efektif. Kalopun lo sampai melepas kewarganegaraan, pasti karena alasan yang udah lo rencanakan–meskipun cuma lo yang bisa paham.”

–Mc Donald simpang dago, 12 September 2013, sekitar jam 1 malam, saat “ritual” tengah malam dengan emil, gumi, dan ode.

“Lagi-lagi lo berbicara pakai bahasa lo sendiri, Sep. Bahasa yang cuma lo yang bisa paham, saat lo menerjemahkan kode-kode dan bahasa semesta”

— Eko, Jalanan di belakang kebun binatang, 12 september 2013, sekitar jam 10 malam, saat “ngegalau” bersama eko, emil, aryo.

Zee: “Kamu itu kayak lilin, Sep. Berusaha menerangi yang lain tapi tanpa sadar kamu membakar dan menghancurkan diri kamu sendiri. Persis kayak lilin yang menerangi sekitar. Tapi kamu lupa, suatu saat lilin itu akan habis dan mati juga”

Saya: “Aku nggak lupa kalau lilin ini ada batasnya juga, teh. Tapi aku cuma semacam menjadikan lilin ini jadi sangat besar, sebesar mercusuar kalo perlu, biar lilin ini bisa menerangi tengah laut yang super gelap. Lagi pula, kalau ternyata ‘tetap hidup’ berarti aku harus mematikan api terang di sumbu lilinku, aku nggak mau, mungkin lebih baik aku ‘bunuh diri’ dengan cara membakar diriku sendiri biar yang lain tetap terang, walaupun setelah itu aku hilang. Yah, mungkin aku cuma butuh tempat lilin yang cukup kuat dan sebanding untuk sama-sama berjuang.

— Percakapan sehabis sebuah sesi training, didengarkan oleh penghuni aruna 5, 31 agustus 2013, padepokan karang tumaritis.

“Selamat ulang tahun sep! Semoga tetap jadi cewek yang feminin dan macho sekaligus!

–Farid, sahabat seperjuangan, 29 Agustus 2013

Ya, inilah saya. Saya bukan perempuan kebanyakan yang sering kamu temui. Saya berbeda. Itu telah lama saya sadari hingga akhirnya saya terima. Di pikiran saya ada labirin, yang kerumitannya tidak membuat banyak orang bisa tahan dan menemukan jalan keluar dari labirin itu, di hati saya ada berlapis-lapis tembok, yang hingga saat ini belum pernah ada satu orangpun yang bisa masuk ke bagian terdalamnya.

Saya adalah perempuan yang akan sangat sulit kamu pahami. Apa yang terlihat bisa bukan berarti yang sebenarnya. Mungkin kamu akan butuh sedikit waktu untuk benar-benar bisa paham bahasa-bahasa aneh yang saya gunakan dan dunia imajiner aneh yang saya tinggali.

Saya bukan pula perempuan yang nyaman dengan make up lengkap, dress dan heels. Saya lebih nyaman jalan kaki, keringetan, berada di tengah terik dan keramaian memperhatikan orang-orang, t-shirt, jeans dan sandal jepit sudah lebih dari cukup untuk sehari-hari. Saya lebih senang jalan kaki random sampai capek, berkawan panas dan debu jalanan, ngopi di warkop dan makan di warteg daripada harus terlihat cantik, kemana-mana pakai mobil, hangout di mall yang ber-ac dan makan di restoran kelas atas.

Saya perempuan yang jauh lebih banyak menghabiskan uang bulanannya di toko buku daripada di butik dan factory outlet membeli baju, tas, sepatu. Sayapun masih sering tidak bisa paham dengan wanita-wanita yang menghabiskan sejuta untuk beli tas saja–padahal lebih baik beli buku atau jalan-jalan saja.

Saya adalah perempuan freak yang tiba-tiba bisa teriak dan senyam-senyum sendirian di tumpukan buku loak saat menemukan ‘harta karun’. Ya, bau buku tua adalah salah satu favorit saya. Saya bisa menghabiskan waktu seharian sekedar untuk mencari buku atau menjelajah di toko buku–terutama toko buku bekas. Saya tidak pernah keberatan berada di antara debu-debu di toko buku bekas. Ya, toko buku adalah semacam surga kecil di dunia buat saya.

Sayapun adalah perempuan cengeng sebenarnya. Saya sangat mudah menangis sebenarnya, tapi bukan karena alasan-alasan kebanyakan orang. Yang akan membuat saya menangis bukanlah perlakuan yang saya terima, luka saya alami, atau apapun yang terjadi di diri saya. Yang akan membuat saya menangis adalah hidup orang lain dan ketidakmampuan saya mengintervensi apa-apa yang terjadi. Ya, kamu bisa saja menemukan saya tetiba menangis sendirian saat menyeberang jalan karena sesuatu yg saya lihat dijalanan, atau ketika saya menonton film atau berita tertentu, kamu bisa mendapati saya tetiba memeluk bantal dan menangis dalam diam. Tapi lebih dari soal itu, terutama untuk diri saya sendiri, air mata saya sangat mahal. Tidak banyak orang-orang yang saya perlihatkan air mata dan emosi saya sebenarnya.

Saya adalah perempuan dengan mimpi yang sangat besar–cenderung absurd malahan. Tapi saya juga sadar, perempuan juga punya fitrah dan kodratnya sendiri. Sebesar apapun mimpi saya sebagai manusia, pengabdian saya pada keluarga–pada suami dan anak-anak nanti adalah yang utama. Maka saya butuh pria yang semacam cermin buat saya. Yang didalam pikirannya ada kerumitan labirin pikiran saya, yang jiwanya cukup luas untuk saya tinggali, yang mimpi-mimpi dan tujuan hidupnya cukup absurd seperti saya, yang raganya cukup kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpi dia, saya–mimpi-mimpi kami berdua, yang siap menjadi berbeda. Biar jika tiba saatnya, saya yang akan jadi penopang dan dia yang maju ke depan. Lelaki yang sangat berharga yang saya posisikan di depan saya, untuk selalu bisa saya dukung dalam naik dan turunnya kehidupan, untuk bisa saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Itulah saya–walaupun belum semua. Maka hati-hati jika kamu mencoba masuk ke dalam labirin diri saya, kebanyakan yang mencoba tidak tahan lalu pergi begitu saja, sebagian lagi terjebak di dalam labirin diri saya dan tak bisa keluar. Tapi belum pernah ada yang menyelesaikan labirin itu. So, I dare you to know the real me!

2 comments on “Mereka Bilang Saya Lilin

  1. noura cantik
    September 13, 2013

    Sep gua suka banget sama paragraf kedua dari terakhir, kata2 nya rapuh tapi menggetarkan jiwa, maybe that’s the truth of the woman heart😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 13, 2013 by in Mesin Waktu.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: