aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sesat Pikir Orang-Orang Mekanika Klasik

isaac_newton

Karakter saya tanpa sadar akan dipengaruhi oleh hal-hal yang saya pelajari, kejadian-kejadian yang saya alami, orang-orang yang saya temui dan buku-buku yang saya baca. Begitu pula dengan jurusan kuliah, tanpa sadar saya sangat terpengaruh, apalagi setelah memahami kebijaksanaan ilmu.

Saya kuliah di Jurusan Teknik Kelautan, sama seperti Teknik Sipil yang menjadi dasar dari ilmu saya adalah mekanika klasik. Orang-orang yang tenggelam di dalam mekanika klasik tanpa sadar akan memosisikan dirinya menjadi “Tuhan” dalam semesta kecilnya. Pola pikir saya terbentuk dari perekayasaan gaya-gaya yang terjadi agar sebuah struktur dapat tegak berdiri meskipun banyak halangan, entah dari ketidakstabilan kondisi alam ataupun operasional yang dilakukan di dalam struktur tersebut.

Lalu saya menjadi terbiasa untuk mengontrol semuanya. Saya kumpulkan semua variabel-variabel yang ada, saya susun hubungan antar variabel, lalu beberapa variabel saya rekayasa agar kemauan dan kebutuhan saya terpenuhi. Jika ini masih dalam konteks struktur bangunan biasa tentulah tidak apa-apa–harusnya memang seperti itu. Tapi saya bukan anak teknik biasa, saya memiliki ketertarikan alami kepada manusia, filsafat dan kompleksitas ilmu sosial. Dan darisini dimulailah eksperimen saya kepada manusia, terutama kepada diri saya sendiri.

Pada kenyataannya, orang-orang yang tidak “hidup” adalah orang-orang yang paling mudah dikendalikan. Semakin saya menarik diri sekilas dari kesibukan sekitar dan memakai pola pandang orang pertama-kedua-ketiga sekaligus, semakin saya bisa memahami dan jika dibutuhkan mengendalikan dan merekayasa orang-orang.  Untungnya saya belum sejahat itu untuk memakai “cara” saya kepada orang lain. Kalian bisa pegang kata-kata saya–bahwa sejauh ini cuma diri saya yang saya rekayasa. Ilmu ini baru saya pakai jika saya menemukan orang yang “sejenis”, memang menyenangkan bermain puzzle dan saling mereka-reka langkah masing-masing selanjutnya.

Lalu setelah menemukan kunci utama dalam rekayasa manusia, saya menemukan objek lain yang menarik; dunia. Ya, saya sempat berpikir soal rekayasa dunia. Saya kumpulkan variabel-variabel yang ternyata jumlahnya sangat banyak, namun diantara variabel-variabel itu akhirnya saya bisa filter menjadi beberapa variabel-variabel utama. Sempat pula saya buat ke dalam diagram alir tentang chaos theory di dalam kehidupan.

Tapi di satu titik saya menyadari sesuatu. Ada sesat pikir yang berkembang di dalam otak dan hidup saya sejak lama. Entah karena pada akhirnya “model” yang saya buat menyatakan bahwa dunia memang harus chaos agar menjadi teratur, entah karena pada dasarnya saya sadar bahwa hidup itu untuk apa.

Orang-orang yang bermimpi besar, yang mengikuti mimpi-mimpinya harus sadar bahwa pada akhirnya tak ada yang dapat dia ubah. Ah, saya mengatakan hal ini bukan dalam nada pesimis! Waktu awal dulu saya menolak total kenyataan bahwa saya tidak dapat mengubah total.

Adalah sebuah paradoks tentang keteraturan– bahwa semakin tidak teratur sesuatu itu ia sebenarnya semakin teratur. Sama seperti fenomena acak di alam, semisal gelombang laut, dalam range yang kecil, gelombang itu akan terlihat acak, tetapi semakin besar dan luas range kita, kita akan melihat bahwa gelombang itu sebenarnya harmonik dan teratur. Begitupun juga dengan saya. Ada masa saya begitu pongah dengan kehidupan dan apa-apa yang saya ketahui, saya susun rencana untuk merekayasa agar semuanya teratur. Tapi, seiring dengan perjalanan yang saya tempuh, saya sadar “range” pikir saya saat itu sangat sempit jika dibandingkan dengan sekarang. Range pikir saya dulu seperti sebesar bola pingpong, padahal semesta sebenarnya sebesar bola basket.

Atau sama seperti ketika kita mencoba menghitung luas daerah sebuah kurva. Karena hasrat dasar manusia adalah ingin dimudahkan, maka kurva itupun direkayasa, dibagi ke dalam partisi-partisi kecil bangunan yang familiar yang kita kenal, sehingga kurva itu tidak terlihat seabstrak sebelumnya. Cara ini efektif, jika ruang yang kita punya memang terbatas dan kecil–karena galat yang dihasilkan dari perhitungan ternyata kecil dan bisa diabaikan. Maka, saat “ruang” kita kecil, hasil perhitungan itu akan kita nyatakan benar. Namun, jika ruang yang ada itu adalah semesta–mari persempit menjadi bumi beserta isinya– rekayasa semacam itu tak lagi berarti, galat yang dihasilkan terlalu besar–maka kita tak akan bisa mengendalikan semesta dengan membaginya ke dalam partisi-partisi mudah yang familiar.

Atau jika kita memperhatikan kembali fenomena Butterfly Effect kita akan sadar bahwa hidup adalah sebuah bentuk dialektika–kumpulan sebab akibat dari segala hal di dunia ini. Maka dari sana, setitik debu-pun punya arti–tidak ada hidup yang kecil, karena setitik debu pun akan membawa kita ke apa-apa yang kita cari dan pertanyakan–jika otak dan hati kita telah menghendakinya. Seperti sebatang rokok yang dibakar di kota ini, siang ini, sangat mungkin menjadi penyebab badai di kawasan amerika latin sana.

Maka bukanlah hasil yang paling penting–bukan pula seberapa sempurna rekayasa yang dilakukan agar semesta menjadi lebih baik.  Tapi niat. Niat baik–tidak peduli akan memakan waktu berapa ratus tahun, melewati berapa perang–jika memang diterima semesta dunia–akan berakhir menjadi baik pula. Sama seperti orang-orang “gila” di dalam sejarah yang perjuangannya, hasil pikir dan karyanya baru bisa diterima “benar” jauh jauh hari setelah ia mati dan mengemban penderitaan karena dianggap “salah” dan “berbeda”.

Pada akhirnya, bukan hasil yang menjadi tujuan. Toh, kepastian yang saya punya tentang hidup hanya detik ini saja. Beberapa saat lagi belum tentu ruh saya masih bersemayam di jasad ini.

Carpe diem! quam minimum credula postero!!

karena akan tiba titik dimana kita sama-sama menyadari–bahwa ketidakteraturan adalah sebuah keteraturan. Sebuah derita adalah kebahagiaan juga. Gelap adalah sebentuk cahaya juga. Semuanya adalah sebuah bentuk keteraturan tersendiri, sebab yang satu baru dapat disadari dan dijalani setelah kita memahami, menyadari dan menjalani ‘pasangannya’ dengan sabar dan rela hati. Hingga tak ada lagi batasan baik dan buruk, teratur dan tidak teratur, gelap dan cahaya. Semua menuju kepada Satu.

Maka berhentilah menjadi “Tuhan” dalam dunia kecilmu. Bertambahpanjangnya rambutmu, berdetaknya jantungmu bahkan bukan engkau yang kendalikan. Lakukanlah segala hal, pijakkanlah kakimu di dunia ini dengan “kekosongan” tanpa bertujuan apa-apa dan mengharapkan apa-apa, persis seperti air yang mengalik. Jika senang tersenyumlah, jika sedih menangislah, jika merasa ada yang salah perbaikilah, jika bertentangan dengan nilai dasarmu lawanlah—tapi “kosonglah” tiadakan kehendak untuk mengontrol sesuatu tanpa perlu meniadakan kehendak itu.

Lalu baru engkau akan merasakan hidup. Amor Fati!

—inilah petualangan yang sedang aku jalani sekarang. Bismillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 9, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: