aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sampah-Sampah di Sabtu Sore

Perjalanan Hidup

Seringnya apa yang sedang saya cari membawa saya ke perjalanan yang lainnya. Disini hasil dari kedua perjalanan itu tidak patut dibandingkan, masing-masing memberikan makna yang berbeda.

Seperti sore ini, saya keluar dari kosan tadi siang dengan niatan untuk ke service center memperbaiki handphone saya yang rusak. Tapi apa mau dikata, sesampainya saya di lokasi, service center tersebut sudah tutup. Akhirnya saya biarkan kaki saya melangkah kemanapun ia mau. Sudah lumayan lama rasanya saya tidak sespontan ini. Saya naik angkot tanpa punya tujuan kemana. Saya turun dari angkot cuma karena hati saya menyuruh saya turun disana. Saya biarkan kaki saya berjalan hingga sangat letih, keluar masuk gang dan tempat asing yang belum sempat saya kenal sebelumnya, saya biarkan diri saya sendiri tersesat.

Saya butuh diingatkan tentang hal-hal kecil yang membuat hidup jadi hidup, jadi pantas untuk ditinggali. Saya butuh diingatkan untuk selalu memakai pandangan orang pertama-orang kedua-orang ketiga sekaligus. Saya butuh diingatkan tentang kesadaran dan makna yang berserakan dijalanan yang baru akan bisa saya pungut jika saya lebih banyak diam, menjalani hidup tanpa terburu-buru dan memperhatikan detail sekitar.

Sesederhana makna bahwa jalan apapun yang saya pilih, seberapapun tersesatnya saya, saya akan tetap menemukan jalan keluar–jika dan hanya jika saya bisa menikmati perjalanan.

Sesederhana makna bahwa diantara orang-orang yang asing, selalu ada hal yang bisa dibagi bersama, seperti si ibu pemulung dan anaknya yang membagi jajanannya kepada saya, seperti si bapak antah berantah yang membantu saya menyebrang, seperti mbak-mbak penjual tahu brintik yang selalu tersenyum, seperti ifa, kenalan baru saya, cuma karena kami berbagi sapaan, seperti pekerja-pekerja bangunan teman nongkrong saya disebuah warkop.

Lalu sampah-sampah di sabtu sore ini memojokkan saya di sudut lampu merah di Jalan Merdeka. Mereka menyayat jiwa saya yang terdalam hingga membuat saya menangis sendirian. Hati saya tersayat dari tiap anak-anak jalanan yang saat ini cuma bisa saya lalui begitu saja, anak-anak yang tertidur di trotoar sementara dua meter disebelah mereka hingar bingar mesin di jalanan merajalela. Jiwa saya tersayat karena saat ini saya sering terlalu sibuk hidup, bahkan pada akhirnya saya lupa merasa.

Sampah-sampah di sabtu sore ini mengingatkan saya, bahwa masalah kesadaran tidak bisa dipaksa. Kita terlalu sibuk hidup di dunia kita sendiri, dan untuk keluar dari hidup kita sendiri butuh kesadaran dan keberanian yang berbeda. Maka jika saya sudah sadar dari otak hingga hati, kesadaran itu harus saya turuti dari otak hingga hati pula.

Tapi sekedar sadar saja tidak cukup. Sekedar berempati, merasa iba dan kasihan tidak lagi cukup. Mungkin bagi kebanyakan orang sekedar begitu saja sudah cukup, dulupun saya begitu, tapi kali ini tidak.

maka sekali lagi, dari randomnya perjalanan saya sore ini, saya kembali mengikat janji kepada sampah-sampah yang saya temui di sabtu sore ini– janji untuk kembali dan tetap menjadi manusia, selagi saya tarik waktu sebentar untuk menyiapkan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 7, 2013 by in Mesin Waktu.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: