aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

dua puluh dua

22

Seringkali hidup jadi lebih bermakna karena mengingat mati. Bagi saya, mengingat matilah yang menjadikan saya hidup. Menikmati setiap detik, setiap detak, setiap tarikan nafas, setiap rasa dan interaksi yang terjadi dalam hidup saya, setiap orang dan kejadian yang berdialektika yang menjadikan saya,  saya.

Saya sesungguhnya bukan orang yang menyenangi perayaan dan keramaian. Maka malam ini saya lebih memilih mengunci diri di kamar, menghadiahi diri saya sendiri dua raka’at dan empat sujud–mencoba meraih dan mengingat Engkau yang membawa pada rindu yang tak berujung, yang membawa saya pada pencarian saya sendiri pada Kebenaran.

Saya nyalakan berulang-ulang dua lagu semalaman ini, ya dua saja cukup, makna keduanya bagi saya bahkan lebih dari cukup, mungkin juga secara tidak langsung menjadi simbol pengulangan dua menjadi dua. Lagu yang pertama adalah lagu yang mempertahankan kewarasan saya, twenty something oleh jamie cullum. lagu ini selalu mengingatkan saya untuk tetap menjadi saya, dan lagi sebagian gundah saya cukup terbaca di lagu ini. Lagu kedua adalah lagu yang saya temukan di lini masamu beberapa waktu yang lalu. Alasannya? belum perlu engkau tau saat ini, semua ada waktunya

Setahun terakhir adalah perjalanan yang terasa berbeda bagi saya. Secara fisik setahun kemarin memang tidak berbeda dati tahun-tahun kemarin, sama-sama tersusun dari dua belas bulan. Setahun ini adalah ketika dimana otak dan hati saya berperang dan bersahabat sedemikian rupanya. Maka saat ini, saya pribadi ingin mengapresiasi kedua bagian ini.

Kepada Otak

Saya tahu kamu sudah risau sejak lama. Sejak kecil dulu ada hal-hal yang selalu kamu coba rasionalisasikan, ketidakmengertianmu terhadap sekitar dan kejadian serta luka yang membekas selalu coba engkau pahami. Tanpa sadar engkau sering jadi nakal, nilai-nilai ajaran yang diturunkan begitu saja tak mau engkau telan bulat-bulat. Pada akhirnya engkau ambil jalanmu sendiri, engkau putar balik arah bahkan dari ajaran agamamu, engkau susuri jalan setapak ke ‘rumah-rumah’ lainnya, engkau temukan pula bahasa-bahasa yang jauh lebih mengerti dirimu daripada manusia lainnya yang pernah engkau temui lewat sastra, engkau tenggelamkan pertanyaan-pertanyaanmu dan pencarianmu terhadap jawaban lewat filsafat dan sains, hingga baru setahun kemarin engkau temukan jalan yang bisa engkau terima dengan semua “tapi” darimu.

kadangkala saya pikir engkau terlalu keras kepala, engkau tak bisa patuh begitu saja, dan engkau mulai berulah saat hati menjelajahi dimensi rasa. Dimensi yang ini lebih tak engkau mengerti dari yang lainnya. Tiap-tiap rasa selalu engkau cari rasionalisasinya. Disinilah biasanya engkau berperang dengan hati. Dia bilang ‘bungkam semua pikiranmu! rasakan saja semuanya! diamlah! ‘

Tapi engkau sudah jauh lebih dewasa daripada waktu-waktu itu. Sekarang engkau sering mengalah untuk membentuk jembatan terlebih dahulu dengan hati. Tapi ingat, masalah rasa memang tak butuh rasionalisasi. Tidakkah engkau ingat dia yang itu jadi gagal karena hal ini juga?

Engkau juga mesti ingat, ada hal-hal yang tak bisa engkau kontrol. Seperti debar jantungmu terhadap sesuatu atau seseorang, atau rasa sakit pada saat tubuh atau jiwamu terluka atau hujan lokal disudut mata. Tak perlu sok kuat, sok tegar, sok bisa sendiri menyelesaikan semuanya.

Kepada Hati

Engkau sesungguhnya adalah hal yang paling kuhindari untuk kusentuh dari dulu. Mungkin karena engkau terlalu peka, mungkin pula karena terlalu banyak luka. Terlalu banyak hal yang menjadi trauma sampai-sampai engkau kusembunyikan. Maaf. Aku baru benar-benar menghadapimu dengan segala kehancurannya setahun terakhir ini. Maaf pula engkau terlalu sering kusembunyikan. Ada hal-hal tentangmu yang belum bisa kubagi dengan yang lain–kecuali orang yang tepat. Terimakasih telah cukup sabar menghadapi otak yang keras kepala. Tapi kalian ternyata sangat selaras untuk hal-hal naif dan utopis walaupun sekilas kalian selalu bertengkar.

Sekali lagi maaf jika engkau selalu kututup untuk yang lainnya. Pada kenyatannya aku memang belum cukup berani untuk membukamu seutuhnya. Yang kemarin, yang kupikir bisa merubuhkan tembok-tembok itu ternyata gagal melakukannya. Tapi yasudahlah, mungkin ini pertanda memang bukan dia orangnya.

Terimakasih karena engkau selalu bisa tabah, bisa pulih dari segala macam luka, bisa sangat mengerti orang lain. Entah sampai engkau akan kututup, mungkin cuma butuh orang yang tepat saja, yang juga direstui otak tentunya.

Terimakasih hey kamu, yang jika aku mematut diri di depan cermin selalu mengikutiku. Terimakasih dua puluh dua tahun ini menjadi sahabat baik dalam keadaan apapun. Tapi jangan selalu merasa sendiri, jangan pula selalu sendirian, mungkin kamu cuma butuh orang yang tepat.

Pintaku tak pernah muluk. Saya cuma ingin sesuatu yang belum saya rasakan dua puluh dua tahun ini. Saya cuma ingin rumah untuk tempat kembali–lahir dan batin. Mungkin selama ini belum saatnya saja. Bersabarlah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 28, 2013 by in Mesin Waktu.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: