aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Kota Belantara

jakarta

 

Yang sering kita lupa, kita ternyata punya banyak persamaan dengan tumbuhan dan hewan.  Tingkat kemiripan DNA manusia dengan babi dan simpanse ternyata mencapai 98%, dengan cacing nematode mencapai 75%, dan dengan lalat buah  mencapai 60%. Tapi dibanding itu semua, ternyata manusia paling dekat dengan kentang. Jumlah kromosom yang menyusun DNA kentang ternyata sama banyaknya dengan manusia.

Atau kenyataan lain bahwa secara psikologis sebenarnya kita sangat mirip dengan burung merpati. Ada sebuah istilah psikologis yang biasa disebut pigeon superstiton itu adalah saat dimana tiap beberapa detik setelah mendapatkan makanan burung merpati terdiam dan seakan-akan melakukan refleksi terhadap tindakannya sebelumnya.

Tidak banyak sebenarnya yang spesial dari manusia. Laku dan setiap kecil elemen pembentuk kita ternyata dapat ditemukan dalam semesta, kita hanya himpunan dari semuanya saja.

Demikian juga kita yang hidup di kota, dunia manusia ini ternyata tak ubahnya seperti hutan belantara saja. Jika hutan dipenuhi pohon-pohon hijau lebat, kota dipenuhi tembok beton dan jalanan aspal,  cuma beda masalah fisik saja saya pikir.

Saya ingat, dulu saya pernah berdiskusi dengan kawan tentang ‘hasrat seks manusia’, saya yang naif ini masih percaya bahwa landasan utamanya adalah cinta-kasih antar dua anak manusia. Ya,ya, kalau anda berpikir saya sangat naif dan utopis, percayalah anda bukan orang pertama yang berkata demikian. Si kawan ini, dengan latar belakang keilmuannya tentang biologi beserta kawan-kawan yang lain sepakat dengan hipotesa bahwa dalam soal hasrat seks, manusia itu sama dengan binatang. Dalam dunia fauna, hasrat seksual itu datang dari bawaan lahir si binatang untuk menghasilkan keturunan, begitupun manusia.

Dari semua kemiripan itu, ada satu hal yang ‘mengganggu’ pikiran saya. Kita yang hidup di kota ini, yang mengaku manusia yang punya pikir dan rasa ini, sebenarnya memakai cara hidup hutan rimba. (Kebanyakan dari ) Kita hanya menjalani hidup untuk sekedar survive saja. Kita menjalani hidup sebagai bagian dari proses survival saja. Jika di hutan rimba seekor herbivor harus bertahan hidup dari seekor karnivor dan seekor karnivor harus makan daging herbivor pula untuk bertahan hidup, disini pun seperti itu. Seorang manusia ternyata harus ‘mengalahkan’ yang lain. Dan lambat laun kita ternyata menjelma menjadi binatang yang lebih buas dari binatang buas di rimba paling dalam sekalipun.

Manusia kota harus ‘mengalahkan’ manusia lainnya, mulai dari eksistensinya agar menjadi lebih dari manusia lain, hingga benar-benar membunuh manusia lain entah dari aspek ekonomi, budaya, hingga fisiknya.

Hati kita memang telah tergerus.

Saya masih tidak bisa terima bahwa sebenarnya konsep hidup kita yang ada saat ini sebenarnya memang ‘membunuh sebelum dibunuh’. Mungkin saya saja yang terlalu sinis melihat sekitar. Tapi pada kenyataanya, kebanyakan dari kita memang hidup seperti itu! Kita bekerja untuk dapat uang, untuk bisa membeli barang-barang yang ‘mencerminkan kita’, untuk dapat liburan melepas penat mendapat ketenangan padahal ketenangan itu datangnya dari hati kita juga, untuk dapat makan enak padahal besok pagi cuma berubah jadi kotoran, itupun kalau tidak sembelit.

Maaf Buya Hamka, bukan maksudku tidak menghormatimu, dulu engkau berkata :

Kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja

tapi manusia-manusia kota ini bahkan lebih binatang dari binatang-binatang di hutan belantara. Kami hanya sekedar hidup saja, sekedar makan saja, sekedar kerja saja.

Kami lupa caranya menjadi manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 7, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: