aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Ketika Tuhan dan Perkara Rasa Pindah ke Media Sosial

universe

Masih jelas sekali di ingatan saya, ketika sekitar dua bulan yang lalu saat saya menghadiri prosesi waisak di Borobudur, seorang kawan berkata :

Kalau Buddha tiba-tiba turun dari moksha-nya ke tempat ini, mungkin dia akan menghancurkan tempat ini

Komentar kawan tersebut dilatarbelakangi karena minimnya ‘rasa’ pada prosesi agama tersebut. Bukan, ini bukan salah biksu-biksu atau para buddhist. Kebanyakan yang hadir tidak mengilhami perkara rasa tersebut, perayaan sebagai pengingat bahwa ada seorang anak manusia yang telah moksha, telah jadi insan kamil, telah menyatu dengan-Nya dan borobudur sebagai simbol perjalanan anak manusia untuk menemukan dirinya. Kebanyakan hanya menjadikannya sebagai perayaan senang-senang, bak wisatawan ataupun anak-anak muda yang hadir di konser saja.

Saya kira nyaris semua perayaan yang syahdu dan indah belakangan berakhir seperti ini. Kuil-kuil peribadatan bagi mayoritas muslim perkotaan bukanlah hatinya, bukan pula mesjid di sekitarnya, tapi tempat-tempat sale yang semakin membludak di akhir ramadhan beserta barisan resto-resto pemenuh nafsu perut manusia.

Saya tidak akan mengajak anda-anda sekalian untuk berdiam diri di mesjid. Berada di mesjid tanpa menemukan hati rasanya akan sedikit hampa, sama seperti beribadah dengan ketiadaan hati. Anda sendirilah yang tau saat berjalan di muka bumi dan saat melakukan apapun di dalamnya hati anda sedang berkiblat kemana, bukan orang lain. Yang saya tahupun cuma hati saya sendiri saja, itu pun kadang ia berkabut saat saya sedang ‘tidak benar’.

Jika dulu Ibrahim membongkar berhala-berhala di kawasan Ka’bah karena hati manusia tak lagi Tauhid, maka ada banyak berhala-berhala baru yang ada di sekitar kita.

Mungkin Tuhan memang tak lagi bersemayam di hati kita, tak lagi berada dekat, lebih dekat dari urat nadi kita, seperti di hadist itu. Mungkin Tuhan memang telah berpindah ke media sosial. Dan urusan dengan-Nya bukan lagi sesuatu yang syahdu, yang indah, yang akrab, yang romantis, yang harus dirahasiakan. Mungkin perkara Cinta telah berbelok supaya jadi harus dianggap dan dilihat oleh manusia lainnya. Mungkin Tagore dan Rumi memang salah. Di abad ini, di jaman yang serba matrealistik ini, di kehidupan kita yang sombong hingga kita berpikir ‘kitalah yang paling benar’ Tuhan telah berpindah, ia berada pada sinyal-sinyal elektrik yang harus dirangkai dengan listrik agar kita bisa dekat. Rumi dan Tagore salah, perkara Tuhan hanya ada di hati telah basi termakan jaman.

Saya tidak peduli dengan new world order, globalisasi atau solusi tentang khilafah yang selalu diutarakan kawan-kawan saya. Bukan itu masalah dan solusianya! hati kita yang tak cukup terbuka dan mengenal Cinta, ego kita untuk selalu ingin dianggap ada, tangan dan mulut yang nakal dan tersirap eksistensi diri adalah semacam bukti betapa kita sangat awam perkara hati.

Mungkin jika Nietzsche masih hidup di abad ini dia pun akan berkata “Tuhan telah Mati!”

dan siapa yang telah membunuhNya?

Kita, Kita inilah yang membunuhnya, dengan basa-basi palsu soal habluminannas di penghujung ramadhan, dan habluminallah yang perlu diketahui orang lain. itu bukti bahwa kita masih butuh eksistensi!

sebab refleksi dan makna tentang maaf tak akan kau dapat lewat lembar-lembar elektronik semata.

sebab Cinta yang seutuhnya tak akan dapat terasa jika ia tak lagi intim, tak lagi romantis, tak lagi syahdu.

Hati kita sendiripun telah kita palsukan, ternyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 7, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: