aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Masa Depan Politik Indonesia yang Ngehe!

merahputih

sepagi ini seorang kawan–yang meskipun baru saya kenal tapi saya sangat merasa sepikiran dengannya tentang banyak hal–menghubungi saya. Kawan saya yang satu ini menulis seperti ini:

Sep, gimana kalau memang indonesia belum siap atas orang2 yg berpikir tentang politik (tapi bukan anak politik)  yg ingin mgubah negara ini? Maksudnya, di masa sekarang ini gak cocok kalau kita bilang “yang pnting berusaha” “daripada ngutuk gelap, mending nyalain lilin”

sungguh saya sedikit senyam-senyum sendiri jadinya, berhubung dari semalaman belum tidur dan langsung disuguhi sesuatu yang menggelitik saya. Si kawan ini berkata dia akan membantu ibu pertiwi dengan caranya sendiri, masa bodoh dengan politik Indonesia yang sudah terlampau bobrok dan cuma waktu yang bisa menyembuhkan luka negeri ini.

Sungguh saya sangat sepakat dengan kawan kita satu ini.

Cuma satu hal yang saya sayangkan, kenapa dia dan bukannya beberapa kawan-kawan kandang gajah yang hobi aksi dan berkoar-koar di twitter yang mengambil konklusi seperti ini.

Ada banyak aktivis-aktivis mahasiswa yang tidak saya sukai–bukan sebagai pribadi ya, hanya pemikirannya saja. Aktivis-aktivis mahasiswa ngehe ini yang rata-rata menggunakan imagologi yang sama ini yang berpikir untuk masuk politik. Ataupun kawan-kawan yang dari sekarang sudah terlihat kesenangannya terhadap hingar bingar spotlight– yang saya ramalkan, mereka-mereka ini tak akan berbeda dengan rang2 yang kita saksikan sekarang.

Kawan saya yang satu ini jenis yang langka. jelas dia berbeda dari aktivis-aktivis mahasiswa itu. Sedikit dari kawan-kawan saya yang benar-benar memiliki sintesa-sintesa pribadi dari pemikiran dan lingkungannya. Sedikit pula yang benar-benar mengeksplor kebenaran. Sedikit pula yang cukup keras kepala terhadap nilai-nilainya, beruntunglah kawan saya yang satu ini termasuk himpunan yang sedikit itu. Sementara kebanyakan aktivis-aktivis mahasiswa yang muncul hanya ibarat beo saja.

Bagaimana dengan saya?

well, saya tidak terlalu peduli dengan masa depan politik kita yang super ngehe ini. Saya cuma melakukan apa yang saya anggap benar saja. Hanya saja ada beberapa hal yang saya yakini, saya hanya bisa mengatur dan memastikan diri saya sendiri saja. Maka, jika saya ingin Presiden Indonesia orang yang lurus, sayalah yang harus jadi presidennya, Jika saya ingin memastikan kebijakan-kebijakan negeri ini benar, sayalah yang akan menjadi pemangku kebijakannya. Soal kapabilitas, ada waktu yang tersisa buat mengejarnya. Sesungguhnya ini cuma masalah siapa yang paling bisa saya pastikan untuk tetap lurus, tentulah hanya diri saya saja.

Tapi diatas semua itu saya memegang nilai-nilai saya sendiri. Jika masuk ke dalam politik membuat saya melepas nilai-nilai yang saya anut itu, saya akan melepaskan dunia politik. Toh sebenarnya politik ngehe ini hanyalah satu dari sekian banyak hal yang bisa dilakukan.

Masalahnya adalah kita terlalu sering melangit, ingin mengubah ini itu. Tapi kita lupa, bahkan semesta pun tersusun dari bagian-bagian yang paling kecil–yang jika bagian-bagian paling kecil itu benar maka semesta juga akan benar. Kawan-kawan yang berambisi politik seringnya berpikir melangit, tapi lupa bagian-bagian kecil ini.

Saya sungguh sangat sepakat dengan filsafat perjuangan Tan Malaka dalam hal ini, dibanding meraih kekuasaan tertinggi, dia lebih memilih mencerdaskan dan memerdekakan manusia-manusia disekitarnya dan manusia-manusia itu memerdekakan yang lainnya, mirip dengan cara kerja virus penyakit. Ada kerendahhatian dan kaki yang selalu menjejak ke tanah pada metode ini.

Tak usahlah kita bermimpi tinggi-tinggi mengubah sistem dan sebagainya. Tak usahlah pula terlalu memikirkan bangsa ini. Cukup jadi sebaik-baiknya manusia saja. Jika perlu hancurkan saja negara. Toh politik negara ini cuma salah satu metode saja, kalau sudah ngehe dan tidak bisa dipakai, ya bongkar!

saya sendiri sudah memantapkan hati dari dua tahun yang lalu untuk masuk dunia birokrasi atau politik, dengan ketentuan diatas tentunya. Entahlah, apapun metode yang kita pilih sebenarnya kita sedang menempuh perjalanan juga. Dan mungkin saja jalan yang saya pilih ini adalah jalan yang tak ada ujung

Saya sudah tahu — semenjak semula — bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini,meskipun kita sudah merdeka,belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yg lain,demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan,maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.–Mochtar Lubis dalam Jalan Tak Ada Ujung

5 comments on “Masa Depan Politik Indonesia yang Ngehe!

  1. 13009025
    August 6, 2013

    Sep, membantu dengan jalannya sendiri itu maksudnya tanpa politik kah? hahaha

    siap dengan konsekuensi dari TM? ditembak bangsa sendiri? wkwk…

    • Septia Agustin
      August 6, 2013

      130–> tek. kimia? eko? hahaha
      iye, jadi si kawan ini belajar politik supaya nggak buta dan mudah dipolitisir ceunah.

      siap gw, jadi musuh bersamapun siap. udah galau dari 2011 soal hal ini kok. hahaha

    • Septia Agustin
      August 6, 2013

      seperti yang waktu itu kita obrolin di karnovir itu lho ko, hal2 yang menyebabkan alumni-alumni tek.kim gak bisa gerak padahal konsepnya udah oke pisan itu. butuh ada yang jadi martir. hahaha

  2. 10210046
    August 6, 2013

    Menarik2 ini. “Aktivis2 mahasiswa ngehe dengan rata2 imagologi yang sama” itu yang kayak mana, Sep?

    • Septia Agustin
      August 6, 2013

      maak.. ini kenapa pada komen pake Nim semua gini sih? lo kira ini lembar jawaban buat ujian? hahaha. Coba perhatikan don, yang paling dekat di kampus, ada orang2 yang ‘image’ di medsosnya lebih besar daripada kejadian aslinya di lapangan.
      Atau betapa ngehe-nya kita yang sok-sok peduli sama rakyat atau kemanusiaan padahal pedulinya cuma latah doang.

      Nah, kalau kita perlihatkan lagi, kampus ini (dan ternyata banyak kampus diluar) punya ‘metode’ yang sama untuk ,menimbulkan kesan pemimpin dan ‘batu loncatan’ bagi seseorang. Entah karena emang kita yg gak kreatif atau mentornya emang sejenis semua. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 6, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: