aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Tuhan, Manusia dan Anak Kecil

babies

Di timeline twitter saya malam ini mendadak seorang teman ngetwit tentang sesuatu yang membangkitkan ingatan saya tentang diri saya dulu. Kawan saya Fajar (@IGPFdjrS) menuliskan seperti ini:

Tadi siang adek saya pegang kepala saya sama dada saya, ketika saya bertanya “kenapa dek?” Dijawabnya “Aku lagi nyari Tuhan kak”

Ah, persis sama seperti saya dulu! dulu sekali rasanya saya pernah bertanya pada ibu saya : “Tuhan itu dimana?” hal itu saya tanyakan kurang lebih saat saya kelas satu atau dua sd. Satu-satunya jawaban yang saya dapatkan adalah : “tidak usah kamu tanyakan atau pikirkan terlalu jauh nanti kamu bisa-bisa gila”. Ah pada akhirnya saya memang jadi gila–jadi tergila-gila mengenal-Nya. Lalu pertanyaan yang mirip saya lontarkan pula pada guru ngaji dan majelis wirid remaja yang saya ikuti, ini saya lakukan saat saya SMP dulu, pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan saya malah dianggap salah, diputar-putar tanpa memberikan jawaban yang jelas, disarankan untuk tidak memikirkan hal itu lagi, dipandang aneh oleh sekitar dan dianggap salah karena bertanya. Ah, society kita memang lucu sekali!

Anak kecil adalah makhluk paling jujur sekaligus filsuf paling handal. Ya, tiap dari kita sesungguhnya adalah filsuf. Hasrat untuk bertanya, mengeksplorasi dan mencari kebenaran sudah ada alami dalam diri kita. Tapi saat kita mulai dewasa hal ini malah kita matikan, tak banyak yang bisa bertahan. Bagi yang bertahan harus siap-siap dengan konsekuensi sosial seperti dianggap aneh, hidup soliter ataupun jadi belajar bertopeng.

Manusia menapaki selangkah demi selangkah dari penyembahan yang sederhana ke penyembahan yang paling tinggi–karena idealismenya, karena ia berpikir dan pada akhirnya karena ia dapat menggunakan hatinya. Ada semacam ruang kosong yang ada dihati manusia yang berusaha dipenuhinya– ruang ini sesungguhnya dipenuhi oleh Cinta. Lalu untuk memaknai Cinta dan keindahan didalamnya manusia purba menundukkan dirinya kepada bunga-bunga, pohon-pohon, gunung-gunung, ataupun simbol-simbol tertentu.

Waktu SD dulu, ruang kelas saya dipenuhi berbagai poster-poster berisi kata-kata mutiara. Hingga saat ini, ada satu kata yang potretnya masih saya simpan jelas di kepala saya : “Pikir itu Pelita Hati”.  Seiring dengan berkembangnya pikir (tingkat intelejensia) manusia, manusia merasa ‘lebih tinggi’ dibanding objek yang disembahnya tersebut, pada akhirnya mereka dapat memanjat dan menaklukan gunung ataupun mencabut tumbuhan dari akarnya. Maka dititik ini, hasrat untuk memenuhi ruang kosong di hati dengan ketundukan terhadap Cinta tak lagi terpenuhi.  Maka disini dicarilah lagi oleh manusia sesuatu yang lebih digdaya ; matahari.

Dalam sejarah manusia, penyembahan terhadap matahari ini berlangsung lama. Di suatu tempat seperti Persia dan belahan timur Rusia, dimana selalu ada matahari namun manusia selalu membutuhkan api karena cuaca yang sangat dingin. Cahaya api menjadi teman dalam kesendirian, karenanyalah di negeri dimana hawanya sangat dingin, api menjadi sesuatu yang sakral dan disucikan, manusia tunduk dalam kepatuhan di dalamnya, memberikan penghormatan.

Namun penyembahan terhadap matahari ini pun berakhir seiring semakin berpikirnya manusia. Ada kalanya matahari menghilang, ia tidak Sejati bersama manusia. Lalu apa itu? Sungguh matahari–sebagai Tuhan– adalah sebuah imajinasi belaka. Sungguh ini adalah keyakinan, yakni Tuhan. Di Mongolia dan China dimana ‘banyak’ Tuhan yang disembah, mereka berkata : “Satu hal hadir sepanjang siang dan malam, melalui kesusahan dan kesedihan, melalui kesenangan dan kesengsaraan, itulah spirit, keyakinan–itulah Tuhan”.

Kemudian tibalah saatnya–seiring dengan semakin ‘berpikirnya’ manusia– kekuatan dan kekuasaan yang mengendalikan dapat dilihat di semua objek, pada setiap yang hidup, pada setiap tumbuhan, pada semua binatang–sebuah kontrol kekuasaan yang menguasai begitu banyak objek yang berbeda. Demikian, terjadilah perubahan dimana pahlawan-pahlawan dihormati, raja-raja disembah dan bahkan suatu planet atau bintang dikira mewakili suatu Tuhan yang terpisah. Idealisme penyembahan ini berkembang pada orang-orang Yunani dan Hindu.

Lalu kita tiba pada ras Semit, ras awal mula Injil muncul yang merupakan anak-anak dari Israel. Ibrahim mendapati orang-orang disekitarnya memuja simbol-simbol, sapi-sapi suci ataupun burung-burung. Lalu Ibrahim mempertanyakan tentang Tuhan. Ia berpikir “Tidak, jika Engkau ada dimana-mana, Engkau seharusnya berada di suatu tempat di dalam diriku, dan aku ingin menemukanMu”Sekali waktu Ibrahim berbaring, ia mengulang namaNya, dan karena ia berpikir tentangNya dia mencari tanda-tanda dari orang yang sungguh layak disembah. Lalu ia melihat bintang dan bertanya ” Apakah engkau Tuhan?” dan jawaban dari hatinya : “Bukan dia” . Bintang tersebut datang dan hilang terus menurus, sedangkan suatu entitas yang layak disembah harus terus bersamaku, begitulah pikir Ibrahim. Hari berikutnya dia melihat bulan dan kembali bertanya hal yang sama, kemudian hatinya menjawab : “Tidak, karena bulan mendapatkan cahayanya dari matahari”. kemudian ia menanyakan hal yang sama kepada matahari, kemudian hatinya menjawab “Tidak, matahari muncul dan menghilang. Betapapun sempurna bentuk dan cahayanya matahari tak bisa dijadikan Tuhan yan abadi”. Inilah awal suatu idealisme tentang Tuhan dimulai. Tuhan lebih ideal dari matahari, bulan atau apapun yang dapat diungkapkan dengan kata-kata, satu Tuhan tanpa bentuk dan nama, semuanya berada dalam konsep manusia.

Cita-cita besar ini datang lewat Nabi-Nabi yang berbeda-beda dengan cara yang berbeda-beda pula. Jika Musa berkata : “Tuhan satu, tiada Tuhan selain Aku”. Jesus Kristus berkata “Tidak hanya satu Tuhan, tetapi satu yang hidup juga; seluruh perwujudan adalah Satu”. Matahari bukanlah apa yang kita lihat; disana ada matahari, disana ada perwujudan yang kita lihat, dan disana ada  yang dihasilkan dari matahari–semua adalah tiga aspek yang satu, ‘Aku dan Ayahku adalah satu’ ‘Yang menghasilkan ayah dan anak adalah satu’ — tiga aspek ini yang secara keseluruhan menciptakan suatu teka-teki dalam pikiran manusia; dia dapat bertahan dalam teka-teki itu sepanjang hidupnya. Ada sesuatu itu sendiri, ada perwujudannya, dan ada yang dihasilkan darinya, selalu trinitas ini ada di dalam satu kesatuan. Pada semua usia pesan disampaikan dengan kebenaran dan kebijaksanaan sebagaimana tiap kurir datang, namun bagaimana semua orang dapat memahami kebenaran bila tak semua orang mampu memahami orang lain? bagaimana pula seseorang dapat memahami orang lain bila ia tak mampu memahami dirinya sendiri. Maka, mengenal dan memahami kebenaran berarti mengenal dan  memahami diri sendiri.

Kesulitan yang sama muncul pada saat Nabi Muhammad menyiarkan Islam. beliau mengatakan kepada orang-orang yang menyembah begitu banyak Tuhan, “Tidak ada Tuhan selain satu Tuhan (Tidak ada Tuhan selain Allah)”.  Lalu orang-orang itu bertanya :”Dimana Dia? Apakah Dia berada di kuil-kuil kami? Apakah Dia berada didalam ka’bah?” , Muhammad menjawab Tidak, kuil-Nya ada di dalam hati manusia.” Orang-orang itu kembali bertanya “Seberapa jauhkah Dia?” Muhammad menjawab “Dia lebih dekat daripada dirimu sendiri”. Mereka bertanya “Dalam hal apa kami bisa menemukannya? dan Apa tandanya?” kemudia Muhammad menjawab “Dia berada pada semua tanda dan semua adalah tanda-tandaNya. Dia tidak dapat dibatasi dalam suatu tempat, suatu bentuk atau suatu nama, karena semua nama adalah namaNya, semua bentuk adalah bentukNya, semua yang ada di langit dan bumi adalah makhlukNya, dan hanya ada Yang Satu.”

Yang terkadang kita lupa, kita adalah dialektika dari semesta. Mulai dari awal semesta ini tercipta hingga saat ini. Maka untuk memahami diri kita, kita perlu melapangkan dada dan menundukkan ego untuk melihat kebelakang, melihat sekitar dan memahami esensi dan makna dari segala yang ada. Kita adalah entitas yang sama dari jaman kuno dulu. Kita adalah manusia purba penganut animisme dan dinamisme, kita adalah manusia yang bergerak dari penyemabahan terhadap barang, alam simbol hingga mengenal Kebenaran yang Sejati. Maka jangan takut bertanya! Bertanyalah yang membawa manusia bergerak dari penyembahan paling sederhana hingga yang paling Sejati. Karena Pikir adalah Pelita Hati!

Pada dasarnya apa yang dicari umat manusia dari jaman ke jaman adalah sama. Ada yang lari ke filsafat, sains, budaya dan jalan lainnya. Pada akhirnya semua sungai akan bermuara ke laut juga. And I’m on my way home, Dear🙂

2 comments on “Tuhan, Manusia dan Anak Kecil

  1. Maximillian
    July 1, 2013

    ” Yang terkadang kita lupa, kita adalah dialektika dari semesta ”

    Keimanan pada Pencipta seringkali tak bisa dibatasi oleh “regulasi” agama. Jika sempat menelusuri genealogi peradaban Homo sapiens, dengan kombinasi metode penelusuran mitokondria DNA ( biologi evolusioner- genetika), geografi, antropologi, dan linguistik, maka semua “pesohor moralitas” dan “penjaga nilai” yang disebut dengan label nabi/ rasul, ternyata punya hubungan kental, walaupun seringkali antar kitab tidak menulis eksplisit semua tokoh yang mereka maksud.

    Menarik, tulisan yang bagus😀

    • Septia Agustin
      July 3, 2013

      yoi… sepertinya ada alasan khusus pula kenapa “sungai” bagi para kaum brahmin disucikan, begitupula dalam buku sidharta-herman hesse : akhir dari semua sungai adalah di laut yang sama juga🙂

      nuhun pujiannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 29, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: