aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Memaknai Waktu

waktu

ada dua waktu di dalam hidup dimana jika kita melakukan sesuatu di dalam dua waktu itu kita akan berakhir dalam kesia-siaan belaka, dua waktu itu adalah kemarin dan esok. Pada akhirnya yang kita pasti punya adalah detik ini. Berbicara tentang kemarin berarti membicarakan hal-hal lewat, ibarat rasa kecewa ataupun sakit yang pada akhirnya selalu kita tenang. Ah, manusia memang punya kecenderungan untuk menjadi masokis. Kecenderungan kita untuk bicara tentang ‘kemarin’ menunjukkan betapa kita senang terbuai dalam persepsi-persepsi rasa yang kita ciptakan sendiri. Bahkan lama-lama tiap luka dari kemarin menjelma menjadi candu. Sementara berbicara tentang esok adalah angan-angan belaka saja. Sedekat, sebesar, semulia apapun yang kita pikirkan tentang esok, itu hanya ada dalam ruang pikir kita. Ia harus menempuh satu rotasi bumi untuk dapat terjadi, tapi pada detik ini dia masih ada dalam ruang pikir saja. Maka satu-satunya waktu yang pasti hanyalah waktu ini, di detik yang ini saja.

Seringnya kita semua terjebak dalam definisi dan deskripsi tentang waktu sehingga tanpa sadar kita menjalani hidup seperti sedang lomba sprint saja, seolah-olah kita selalu tertinggal saja dari yang lain, pada akhirnya kita lupa untuk hidup dan menikmati hidup itu sendiri. Dalam ruang pikir fisiki, variabel waktu sebenarnya didefinisikan dari perpindahan sesuatu dari satu titik ke titik yang lainnya. Waktu terjadi akibat gerak. Gerak rotasi dari bumilah yang membuat kita mendefinisikan satu hari (24 jam), Gerak revolusi bumilah yang menyebabkan kita mendefinisikan setahun, Gerak bintang-bintang di angkasalah yang menyebabkan pengelana dan petani jamman dulu menamakan musim. Pada akhirnya waktu yang awam kita kenal saat ini hanyalah bahasa yang dibuat manusia-manusia sebelum kita untuk membantu hidupnya. Seperti pada masa bercocok tanam manusia purba dulu, mereka mendefinisikan waktu untuk tanam dan panen. Ya, waktu sekali lagi hanyalah bahasa manusia, bukan kesejatian.

Lalu kita yang melupakan betapa tidak sejatinya waktu itu terjebak dalam ruang hidup yang fana ini, dimana kita saling berlomba-lomba satu sama lain, bukan karena kita tahu apa yang dituju, tapi karena tidak ingin ketinggalan dari yang lain. Kita lupa, yang paling nikmat dari hidup adalah detik ini, dimana semesta ada dan terjadi, saat jantung berdetak, oksigen masih bisa terhirup memenuhi ruang paru-paru. Kapan terakhir kali kita menikmati detik ini?

Maka jalanilah apapun yang ingin kamu lakukan detik ini juga, jika mencintai seseorang sampaikanlah detik ini juga, jika bermimpi akan sesuatu lakukanlah detik ini juga. Bukan untuk mencapai impian itu, bukan juga untuk mendapatkan hati orang yang dicintai, bukan pula untuk menjadi ‘sukses’, tapi semata-mata karena yang kita punyai pasti hanyalah detik ini, maka nikmatilah!

Carpe diem! quam minimum credula postero!

–Seize the day! Hope the least for tomorrow!

(Dead Poet Society)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 28, 2013 by in Rekayasa Otak.
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: