aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Spiritualitas Sang Kala–Kahlil Gibran

kahlil

Saya menyenangi kahlil dengan alasan yang sama dengan kesenangan saya kepada filsafat, kahlil selalu sukses membahasakan apa-apa yanag saya rasakan tapi tak pernah bisa terbahasakan. Ada sebuah kesenangan sendiri saat saya menangkap diri saya yang terkurung dalam sajak-sajak kahlil ataupun teorema-teoram filsafat yang baru saya kenal, seakan-akan semakin meyakinkan bahwa di dalam pikiran-pikiran aneh saya ini saya tidak sendirian🙂

Sebagian keagungan itu adalah waktu. beserta kelahiran, perubahan dan kematian adalah waktu. Sang Kala menyaksikan dan menampakkan banyak hal. Namun, karena begitu lekatnya waktu dengan diri kita, banyak orang tidak mampu meliha apa pun darinya, namun kahlil membahasakannya dengan indah.

Sekilas buku ini mengingatkan saya dengan dewa-dewa dalam mahabarata, dewa tertinggi dan terkuat adalah Batara Kala, bukan karena kekuatannya mencipta atau menghancur, namun karena ia adalah inti waktu itu sendiri, ialah inti dari kejadian, sementara yang lain hanyalah percikan dan turunan dari Batara Kala.

berbicara tentang kala berarti berbicara tentang rasa. bagiku yang menjadikan kala ada bukanlah hitungan detik, menit, jam, hari, tahun, windu, dekade, abad dan lainnya. yang menjadikan waktu ada adalah bentukan dan gejolak rasa yang tercipta diantaranya. bukanlah wujud ‘konkrit’ suatu benda yang muncul, menua lalu tiada yang mendefinisikan waktu sejati, tapi gerak rasa yang naik turun yang menyatakannya ada.

mungkin hal yang sama yang membuat einstein membahasakan kala dalam bentuk konsep relativitas waktu, sejam bersama Ia yang dicintai serasa terjalani sedetik saja, sebaliknya, sedetik berada di kelas yang tidak disenangi serasa sejam. mungkin sama seperti perjalanan yang kulalui setahun kebelakang ini yang rasanya bahkan lebih lama daripada 20 tahun hidupku sebelumnya.

Dan semakin kutelusuri Ia Yang Sejati, semakin kurasakan apa itu Sang Kala sebenarnya.

Mungkin kita akan menyadari di suatu titik, bahwa hidup bukanlah sekedar lahir dan memulai hitungan umur disana, lalu muda, tua dan mati dan mengakhiri umur disana.

Sang Kala bukanlah hitungan matematis yang dapat kita jadikan acuan dalam menjalani hidup.

Sang Kala adalah ruang spiral memutar dalam dimensi ruang-waktu hidup kita, ruang memutar tempat perjalanan rasa kita, untuk menemukan Aku, untuk menyatu dengan Aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 18, 2013 by in Rekayasa Otak and tagged , , .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: