aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Bukankah Nasib adalah Kesunyian Masing-Masing?

chairil

Kali ini aku berkaca lagi ke dalam Chairil. Dari pertama ketika berada di SMP saat aku pertama kali mengenalnya aku merasa mirip dengannya. Bisa dibilang dia juga yang menjadi salah satu penyebab aku menggilai sastra dari aku SMP dulu. Namun semakin kesini Chairil kembali kupahami dengan makna yang berbeda. Ia adalah sembilu luka yang meninggalkan bekas dan nyeri yang akan selalu kurasa. Chairil adalah representasi dari kegilaanku kepada sunyi dan hening, Kegilaanku pada kata-kata sebagai mantra dan pelarianku pada zombie-zombie yang memenuhi dunia, jasad yang berjalan menjalani hari tapi tanpa ada ruh di dalamnya. Ya, sebenarnya sisi ‘gelap’ diriku yang tak banyak bisa dipahami oleh orang lain ini kudapatkan dari diriku yang berkaca pada kata-kata Chairil sejak dulu.

Kemiripan lain yang kubagi dengannya adallah tentang jiwa dan perjalanan. Orang yang tidak terlalu mengenal Chairil akan berkata bahwa jiwa Chairil adalah jiwa penentang yang keras, mungkin hanya sedikit yang bisa paham bahwa kerasnya Chairil adalah semacam topeng dari dirinya saja, jiwa Chairil adalah jiwa yang sangat halus, teramat halus sampai ‘nyata’ dari tiap luka ia simpan sendiri saja, lalu ia biarkan saja orang-orang menyalahkannya dari tiap luka yang diemban sendiri dan tak dapat dipahami orang-orang itu. Ya, sarkas dan kasarnya bahasa Chairil sebenarnya menyembunyikan sesuatu. Ia bukan menata bahasa lugas, realisitis dan jujur selayaknya mochtar lubis, bukan pula berisi semangat memberontak membara ala wiji thukul. Tiap kata dari Chairil adalah sunyi dan luka yang ia jalani sendiri. Tiap kata dari Chairil adalah nuansa rasa sarkas dan tegas yang ia gunakan untuk menyembunyikan jiwa-nya yang sebenarnya. Ah, bagaimana pun juga aku pun begitu.

Lalu orang-orang seperti kita Chairil, adalah orang-orang yang memberikan kutukan ini berulang-ulang kepada diri sendiri :

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi. (Sia-Sia, Chairil Anwar)

kita adalah sesama orang-orang naif yang menyembunyikan jiwa agar yang lain tidak terluka, lalu kita berlindung dalam semburat luka, nyeri dan sunyi itu, kita biarkan kegelapan menggerayangi hingga akhirnya menutupi siapa kita sebenarnya. Tapi mungkin saja kita cuma menanti ada yang bisa masuk ke dalam gelap itu dan menyadari bahwa gelap kita adalah semacam cahaya juga, Seperti engkau yang menenti Sri, Chairil.

Tapi bicara hidup dan nasib adalah selayaknya berbicara soal perjalanan. Bisa saja kita menjalani perjalanan dengan orang lain, seperti engkau yang pada akhirnya menanti Sri. Tapi perjalananmu tetap perjananmu, dan perjalanannya adalah tetap perjalananya, meski engkau membagi ruang dan waktu yang sama dengannya. termasuk barisan luka, sunyi dan hening itu akan kita jalani sendiri-sendiri juga akhirnya,

Ah Chairil, aku mendadak teringat sebuah kutipan dari Pram:

Hidup ini bukan pasar malam. Di tengah pesta kehidupan, kita tidak berbondong-bondong datang. Satu per satu kita datang, satu per satu kita berjalan dan menjelajah, satu per satu kita menciptakan kisah kita masing-masing, hingga tiba saatnya nanti satu per satu kita mengakhiri jalan ini-pulang. (P.A.T-Bukan Pasar Malam, hal 526)

Bukankah kita orang-orang yang terlebih dahulu mngerti apa itu sepi dan menyembunyikan jiwa kita jadinya paham benar dengan maksud pram diatas? Dan seperti katamu Chairil, “Bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing?”

Ah, orang-orang semacam kita akan tetap berjalan seperti ini walau kita kutuki diri sendiri berkali-kali!

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan,
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!

(Pemberian Tahu, Chairil Anwar, 1946)

5 comments on “Bukankah Nasib adalah Kesunyian Masing-Masing?

  1. afri72
    June 26, 2014

    Saya suka gaya bahasa dan bahasan mbak. boleh satu waktu ngopi bareng.

  2. makhluklemah
    September 23, 2014

    Mba, numpang nanya.
    Apa novel bukan pasar malam itu smpai 526 halaman? Kepunyaan saya masalahnya cuma 100an halaman saja smpai ending.

  3. Filmar (@filmarew)
    May 8, 2015

    Ahh baca ini bikin sedih.
    Tulisan mba septi mengkoyak-koyak hati saya. 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 17, 2013 by in Rekayasa Otak and tagged , , , , .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: