aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

12 Angry Men : The Darkside of Democracy

12 angry man

lt’s always difficult to keep persona prejudice out of a thing like this. Wherever you run into it, prejudice always obscures the truth. l don’t really know what the truth is. l don’t suppose anybody will ever really know. Nine of us now seem to feel that the defendant is innocent. But we’re just gambling on probabilities. We may be wrong. We may be trying to let a guilty man go free. l don’t know. Nobody really can. But we have a reasonable doubt. And that’s something that’s very valuable in our system. No jury can declare a man guilty unless it’s sure. (12 Angry Men)

Beberapa hal baru kita fahami setelah kita menjalaninya sendiri. Sebelum hal itu terjalani, segala  macam bentukan pelajaran dari buku-buku, guru-guru ataupun film-film seringnya hanya menjadi inspirasi sesaat saja. Ya, buku-buku, teman-teman dan guru-guru hanya bisa mengajarkan metode dan pengalaman mereka sendiri, tapi kitalah yang harus mendefinisakan ulang dan bahkan mengalami semuanya untuk mengilhami dan menyadari makna yang tersembunyi dari tiap-tiap peristiwa, dari keseharian yang sederhana namun sebenarnya sangat berarti.

Begitupun film ini bagi saya. Pertama kali saya menonton film ini dua tahun yang lalu. Sekilas memang tidak menarik. Maklum, film ini tergolong lawas dan disajikan hitam-putih. Lakon, latar ruang dan waktu pun cenderung monoton. Film ini mayoritas Cuma menyajikan 12 orang juri sebuah kasus hukum di sebuah ruangan yang berdebat selama kurang lebih 1,5 jam durasi film ini. Saat itu saya menganggap film ini menarik karena perdebatan yang terjadi di ruangan tersebut, ya hanya itu saja.

Namun, malam ini saya dengan random-nya menonton kembali film ini. Dan seperti kali pertama saya menonton film ini, kali ini saya masih takjub, bahkan lebih takjub dari kali pertama. Setahun menjadi senator dan rata-rata rapat tiap malam membuat saya senyam-senyum sendiri menonton film ini. Ya, ternyata ada hal yang sangat bermakna di film ini, lebih dar keasyikan menonton debat antara 12 orang tersebut. “Prejudice” itulah hal utama yang saya sadari di film ini dan sangat mirip dengan keseharian saya setahun kemarin. Apalagi disaat dimana satu-satunya orang yang berkata “not guilty” malah dikira framing, atau bahasa kerennya setting forum, sehingga diakhir mayorritas jury sepakat untuk memutuskan “not guilty”. Yah, sedikit banyak tokoh ini mirip dengan saya, sering dikira framing dan setting forum padahal tidak bermaksud seperti itu. saya Cuma mempertahankan apa yang saya anggap benar. Dan yang saya sadari adalah saya sadar dan jujur kapan keputusan-keputusan saya itu keputusan yang objektif atau Cuma sekedar penilaian subjektif karena dipengaruhi oleh unsur “prejudice” ataupun personal saja.

“This fighting… That’s not why we are here, to fight. That we are… What is the word? Notified. That we are notified by mail to come down to this place to decide on the guilt or innocence of a man we… we have never heard of before. We have nothing to gain or lose by… by our verdict. This is one of the reasons why we are strong. We should not make it a… personal thing.” (12 Angry Men)

Bentukan forum juri seperti di film ini ataupun adanya Kongres di KM-ITB sebenarnya adalah sebuah bentuk dan simbol dari demokrasi yang kita jalani. Namun seringnya kita lupa, jika ingin benar-benar menjalani sebuah bentukan demokrasi yang sehat ada syarat awal yang harus terpenuhi: setiap warga adalah cerdas, setiap warge menyadari dan mempergunakan pilitical will-nya, dan tiap perwakilan warga di parlemen harus bisa membebaskan diri dari “prejudice” dan intensi pribadinya. Setahun saya di Kongres KM-ITB saya jadi yakin untuk mengatakan bahwa syarat-syarat di atas tidak terpenuhi. Begitupun dari satu setengah jam menyimak film ini. Dalam diskusi di film ini sangat banyak prejudice yang tidak dapat dilepaskan, kebencian dan kekesalan pribadi yang dibawa-bawa, kepentingan pribadi untuk cepat-cepat keluar dari diskusi sehingga berujung pada sikap pragmatis dan hanya beberapa orang yang benar-benar bisa berdiskusi secara “sehat”. Yang paling menyedihkan adalah saat kali pertama juri yang memutuskan “not guilty” mempertahankan argumennya dan ditentang oleh yang lain dan mempertanyakan keberbedaannya dengan yang lain. Ya, tidak mudah sebenarnya untuk mempertahankan kebenaran tanpa tebawa arus tapi juga sekaligus objektif dengan penilaian sendiri dan jujur apabila ternyata memang salah. Tidak banyak orang yang bisa bertahan seperti itu. Tapi patut dicoba, tak apa walau jadi berbeda dab jadi musuh seluruh orang di dunia selama kebenaran yang kau pertahankan. You have to stand for something even if it means standing alone!

2 comments on “12 Angry Men : The Darkside of Democracy

  1. Karina Maulidya
    May 18, 2013

    Cieee aseppp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 17, 2013 by in Kemahasiswaan, Rekayasa Otak and tagged , , .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: