aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Cloud Atlas (2012) ; Sebuah Perjalanan Jiwa dan Takdir

cloud atlas

Tilda’s dad: ”there is a natural order to this world and those who try yo upend it do not fare well. This movement will never survive. If you join them, you and your entire family will be shunned. At best, you exist as pariah, to be spat on and beaten. At worst, lynched or crucified. And for what? for what? No matter what you do, it will never amount to anything more than a single drop in limitless ocean.”

Mr. Ewing: “ What is an ocean but multitude of drops?

 

Pertama kali saya menonton film ini minggu lalu, ditengah deadline akademik yang memburu dan beberapa tanya yang kian mengganggu belakangan ini saya sempatkan menonton film ini di dini hari. Breathless!! Itu kesan saya setelah menonton film ini. Bukan karena adegan tembak-tembakan atau spesial efek tertentu yang membuat saya berkata demikian. Namun karena film ini sedikit banyak menjawab beberapa hal yang berkecamuk dipikiran saya belakangan; tentang takdir dan perjalanan jiwa.

Saya bukanlah penikmat film yang jeli dan hafal dengan aktor, sutradara  atau yang lainnya. Saya adalah penikmat cerita yang ada di dalamnya. Jadi maaf apabila di review ini saya akan lebih banyak mengulas tentang cerita dan makna dibandingkan dengan sinematografi.

Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah film ini mengambil beberapa ruang dan waktu yang berbeda sekaligus. Pelaku pada ruang dan waktu tersebut sekilas berbeda, tetapi jika kita jeli mengamati : mereka adalah jiwa yang sama. Jiwa-jiwa yang terlahir berbeda dalam kerangka ruang dan waktu tersebut menjalani takdir yang pada permukaan akan terlihat berbeda dalam ruang dan waktu tersebut. Namun, jika diilhami lebih jauh, jiwa-jiwa tersebut selalu menjalani takdir yang sama. Ya, sebuah perjalanan jiwa yang tidak lekang dalam hitungan tahun, generasi, ras ataupun gender.

Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others. Past and present. And by each crime and every kindness, we birth our future. “ (Sonmi)

Pernahkah anda merasa tetiba sangat cocok dengan seseorang yang walaupun baru bertemu seakan-akan sudah mengenalnya sekian lama? Atau pernahkah anda merasa sangat cocok dengan subjek tertentu yang dalam waktu pendek sangat anda kuasai? Saya mengalaminya. Ada beberapa orang pada hidup saya sejauh ini yang walaupun saya kenal sebentar seakan-akan telah saya kenal sekian lama. Semacam ada kedekatan yang magis yang sukar untuk dijelaskan yang terjadi. Hal yang sama saya alami pada filsafat, politik dan sastra. Seakan-akan subjek ini telah saya kenal sekian lama, tanpa effort besar dapat saya kuasai. Seperti pada filsafat, pemikiran-pemikiran para tokoh seringnya menjadi semacam ‘bahasa’ dari pikiran-pikiran saya karena hal tersebut pernah saya pikirkan sebelumnya.

Sebenarnya kejadian ini dapat dijelaskan secara scientific. Manusia pada dasarnya menyimpan “data” yang terenkripsi pada gen-nya. Datanya pasti banyak, wong tiap-tiap yang kita lihat lewat mata ini sebenarnya selalu tersimpan di otak. Tapi data yang terenskripsi ini sesungguhnya bukan milik kita saja. Data yang ada sesungguhnya juga merupakan “turunan” dari leluhur kita. Sama seperti “bakat” gen yang butuh trigger aktifasi dari lingkungan, begitu pula data ini.

Sedikit banyak hal ini termaktub juga dalam film Cloud Atas ini. Di beberapa scene tokoh-tokoh ini mendapatkan “mimpi” tentang masa lalu, atau pada saat mereka mendatangi sesuatu ataupun mendengarkan sesuatu mereka seolah-olah familiar karena hal tersebut sudah pernah mereka alami di kehidupan yang lalu.

Tiap tokoh dalam film ini menjalani takdir yang sama dalam tiap ruang hidupnya, kesamaan yang esensial tentunya, bukan kesamaan di permukaan saja. Takdir yang tiap-tiap jiwa ini jalani ternyata sama, meskipun di kehidupan sebelumnya belum sempat ia selesaikan. Tidak hanya itu, jiwa-jiwa yang terikat pada mereka dalam penjalanan takdir itupun sama. DI satu ruang dan waktu bisa saja berbentuk teman, di ruang dan waktu yang lain berbentuk pasangan, di ruang dan waktu yang lain berwujud kerabat. Tapi selalu ada titik dimana hubungan yang sama kembali terbentuk dan tiap jiwa tersebut memnuhi takdirnya masing-masing.

Tiap-tiap jiwa adalah unik. Mereka punya takdirnya sendiri yang hanya dapat dijalani oleh jiwa tersebut. Dan takdir dari perjalanan tiap jiwa berawal dan berakhir pada satu titik : “Kebenaran Hakiki”

Maka, pada titik hidup yang ini seharusnya kita tidak usah khawatir  jika takdir dan teman sejiwa itu tak terpenuhi, mungkin bukan sekarang waktunya. Nikmati dan jalani saja!😀

“Belief like fear or love is a force to be understood as we understand the theory of relativity and principles of uncertainty. Phenomena that deternine the course of our lives. Yesterday, my life was headed in one direction. Today, it is headed in another. Yesterday, i believed i would never have done what i did today. These forces that often remake time and space, they can shape and alter who we imagine ourselves to be, begin long before we are born, and continue after we perish. Our lives and our choices like quantum trajectories are understood moment to moment at each point of intersection, each encounter, suggest a new potential direction.” (Isaac Sachs)

P.S : ada beberapa bayangan dari masa lampau yang belakangan kerap mendatangi saya. Jika dan hanya jika teori diatas benar adanya, berarti petualangan yang menyenangkan menanti di depan😀

5 comments on “Cloud Atlas (2012) ; Sebuah Perjalanan Jiwa dan Takdir

  1. neirahiwa
    May 15, 2013

    dan ada kalimat2 yang seperti pernah gw baca,, benarkah yang gw baca itu hasil perbincangan di perpus? :3

  2. Karina Maulidya
    May 18, 2013

    Ciieee wawa sotoy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 14, 2013 by in Rekayasa Otak and tagged , .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: