aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Sebuah Ajakan Untuk Merdeka

merdeka

Sebuah tugas yang berat tapi suci, sekarang dipikulkan di atas bahu setiap orang Indonesia untuk memerdekakan 55 juta jiwa dari perbudakan yang beratus-ratus tahun lamanya, dan memimpin mereka ke pintu gerbang hidup baru.(Tan Malaka-Aksi Massa)

Indonesia memiliki sejarah perjuangan panjang dalam memerdekakan dirinya. 3 abad lebih dijajah Belanda, 3 tahun lebih dijajah Jepang dan sudah 67 tahun menyatakan diri sendiri merdeka. Indonesia sebagai sebuah entitas budaya secara tidak langsung telah ‘diperkosa’ oleh negara jajahannya dalam bertahun-tahun imperialismenya tersebut. Bangsa ini dimiskinkan secara perlahan, tidak hanya dalam ranah sumber daya alam tetapi juga budaya dan mentalitas yang terbentuk dalam tatanan kehidupan masyarakatnya. Sementara itu, pihak yang menjajah semakin kaya dengan kekuasaan, keilmuan dan teknologi dengan bangsa-bangsa jajahan sebagai kelinci percobaannya. Bangsa ini turut andil pada lahir dan berkembangnya berbagai imperium di dunia. Masa kejayaan portugis dan Spanyol yang berdiri di atas perampasan perak dan emas. Masa kejayaan Inggris yang berdiri di atas perbudakan dan monopoli perdagangan(tekstil dan candu). Masa kejayaan Belanda yang dibangun di atas monopoli rempah-rempah.

Pun setelah (mengaku) merdeka diumur yang ke 67 ini, penjajahan yang telah mengakar dan mengalir dalam urat nadi keturunan orang-orang yang dijajah langsung oleh portugis,spanyol,belanda dan jepang ini masih mewariskan suatu budaya yang sampai sekarang tidak dapat kita lepaskan sebagai sebuah bangsa. Penjajahan tersebut mewariskan mentalitas bangsa jajahan, bangsa yang takut dan cenderung pragmatis. Mentalitas bangsa yang dikalahkan berabad-abad  yang berusaha survive dari bangsa yang menjajahnya. Mengutip Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesianya, ada 6 ciri-ciri manusia Indonesia, yaitu :

Ciri pertama manusia Indonesia adalah hipokrit atau munafik. Di depan umum kita mengecam kehidupan seks terbuka atau setengah terbuka, tapi kita membuka tempat mandi uap, tempat pijat, dan melindungi prostitusi. Kalau ditawari sesuatu akan bilang tidak namun dalam hatinya berharap agar tawaran tadi bisa diterima. Ciri kedua manusia Indonesia, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Atasan menggeser tanggung jawab atas kesalahan kepada bawahan dan bawahan menggeser kepada yang lebih bawah lagi. Menghadapi sikap ini, bawahan dapat cepat membela diri dengan mengatakan, ”Saya hanya melaksanakan perintah atasan.”Ciri ketiga manusia Indonesia berjiwa feodal. Sikap feodal dapat dilihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan organisasi kepegawaian. Istri komandan atau istri menteri otomatis menjadi ketua, tak peduli kurang cakap atau tak punya bakat memimpin. Akibat jiwa feodal ini, yang berkuasa tidak suka mendengar kritik dan bawahan amat segan melontarkan kritik terhadap atasan. Ciri keempat manusia Indonesia, masih percaya takhayul. Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan gaib. Percaya manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua untuk menyenangkan ”mereka” agar jangan memusuhi manusia, termasuk memberi sesajen.
”Kemudian kita membuat mantra dan semboyan baru, Tritura, Ampera, Orde Baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang adil dan merata, insan pembangunan,” ujar Mochtar Lubis. Dia melanjutkan kritiknya, ”Sekarang kita membikin takhayul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi satu takhayul baru, juga pembangunan ekonomi.” Ciri kelima, manusia Indonesia artistik. Karena dekat dengan alam, manusia Indonesia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang dituangkan dalam ciptaan serta kerajinan artistik yang indah. Ciri keenam, manusia Indonesia, tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang menggerutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa.Kita, menurut Mochtar Lubis, juga bisa kejam, mengamuk, membunuh, berkhianat, membakar, dan dengki. Sifat buruk lain adalah kita cenderung bermalas-malas akibat alam kita yang murah hati.

Bagaimanapun juga, setiap zaman memilki tantangannya sendiri. Pertanyaanya sekarang adalah apakah setelah 67 tahun (mengaku) merdeka bangsa kita masih bermental terjajah? Benarkah kita masih memiliki karakter-karakter yang tertulis dalam buku manusia Indonesia-Mochtar Lubis? Benarkah kita telah terlepas dari imperialisme suatu bangsa atas bangsa lainnya? Sudahkah kita merdeka tidak hanya dari status, tapi juga dari kepuasan kita mengolah tanah dan laut sendiri? Sudahkah kita merdeka tidak hanya dari status kita sebagai negara, tapi juga merdeka sebagai seorang individu? Bukankah kemerdekaan berpikir dan bertindak adalah salah satu hal yang paling dasar saat kita menjadi manusia? Sekarang seberapa sering sebenarnya hak-hak dan kebebasan kita dikebiri oleh asing lewat korporat-korporat asing yang menyedot minyak dan gas bumi kita ataupun lewat tangan dan kaki pemerintahan kita sendiri? Lalu jika kita memang ditindas oleh bentuk kekuasaan asing (dengan cara baru) sudahkah kita mulai berpikir memerdekakan kita sendiri, mulai dari memerdekakan karakter, mental dan sikap kita hingga niscaya kita menjadi merdeka?

Kalau di masa sekarang wakil-wakil dari seluruh atau sebagian rakyat Indonesia dipilih oleh orang Indonesia dengan pemilihan yang sebebas-bebasnya, niscaya dengan segera akan menghadapi masalah kelas. Jika mereka tak suka menipu si pemilih, wakil-wakil mereka seharusnya mengangkut masalah perbaikan ekonomi, sosial dan politik untuk melawan kapital besar. Hal ini bukanlah perbaikan kecil-kecilan yang dijalankan perlahan-lahan oleh kaum birokrat, melainkan perubahan radikal yang dikerjakan dengan cepat dan praktis di bawah pimpinan dan pengawasan wakil-wakil rakyat.

(Aksi Massa, Tan Malaka, 1926)

Pada dasaranya, jika kita berpikir sejenak kita akan bertemu jawabannya: “Kenapa kakek-nenek kita dulu mau berperang melawan penjajahan meski hanya dengan modal bambu runcing, meski sudah jelas kalah teknologi? Kenapa mereka tidak menjadikan Indonesia negara persemakmuran Belanda atau Inggris saja, siapa tau seharusnya kita sekarang lebih maju dari Malaysia atau Singapura?” Mungkin jawabannya adalah karena kemerdekaan seseorang tidak pernah bisa dibeli, karena kemerdekaan seseorang beserta generasi-generasi dibawahnya memang layak diperjuangkan dengan taruhan darah sekalipun, karena pada akhirnya yang tersisa dari suatu kaum adalah harga diri untuk tidak menghamba kepada kaum lainnya. Harga diri untuk bisa merdeka, bebas berpikir, bebas berkeinginan, bebas bertindak, bebas mencangkul dan mengolah tanah dan lautan sendiri, bebas sejak dalam pikiran dan perbuatannya, bebas untuk jadi manusia seutuhnya tanpa bisa dijajah oleh manusia lainnya.

Maka, saat ini, sudahkah kita merdeka? Sudahkah pemerintahan kita (yang kita pilih bersama untuk mengorganisir pencapaian kesejahteraan kita) memperlakukan kita selayaknya manusia merdeka? Sudahkah kita (sebagai seorang intelektual) berpikir dan berbuat merdeka? Sudahkah bangsa kita merdeka dari (korporat-korporat) asing yang menghisap sumber daya alam dan kebebasan kita sebagai manusia(merdeka)?

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan/ di sana bersemayam kemerdekaan/ apabila engkau memaksa diam/ aku siapkan untukmu: pemberontakan! (Wiji Thukul)

2 comments on “Sebuah Ajakan Untuk Merdeka

  1. Frans Mateus Situmorang
    April 12, 2013

    Mantap sep! Terimakasih sudah membantu mengingatkan hehe.
    Oia, sudahkah kau suruh si pria itu untuk baca tulisanmu? Kuyakin dia pasti kesengsem sep. Ciyus ini😛

    • Septia Agustin
      April 12, 2013

      kalau dia memang orangnya, nanti dia akan sampai ke tulisan ini juga kok hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 12, 2013 by in Mesin Waktu and tagged , .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: