aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

(Ke)Manusia(an) Selepas Pesta

dugem-jkt1

Dini hari ini saya habiskan dengan duduk sendirian di sudut sebuah restoran cepat saji di simpang dago, Bandung. Niatnya, saya ingin mengerjakan tugas yang seharusnya saya selesaikan. Tapi tetiba beberapa hal menggelitik nurani dan otak saya.

Beberapa jam duduk disini di dini hari ini memberikan saya bayangan tentang manusia dan kemanusiaan selepas pesta. Jam-jam segini yang menjadi teman saya di restoran cepat saji ini adalah mahasiswa yang mengejar deadline dan manusia-manusia selepas pesta. Sudah sangat sering saya temui segerombolan anak muda baru selesai ‘bersenang-senang’ memasuki tempat ini, terkadang setengah sadar pula. Kali ini, saya ditemani oleh segerombolan anak muda dan pria usia paruh baya, sepertinya dari suatu organisasi persaudaraan sepeda motor. Mereka setengah mabuk, membuat sedikit keributan dan marah-marah soal balapan yang terjadi tadi. Mungkin mereka ini cuma sedang mengisi kekosongan dalam ruang rasa mereka. Kekosongan rasa itu ditutupi oleh manusia dalam berbagai hal, dalam dentum musik menghentak, dalam kecepatan tinggi di atas sepeda motor, dalam ekstase rasa fly sehabis mengkonsumsi sesuatu. Pada dasarnya manusia ternya mencari semacam kebebasan dalam ruang rasanya.

Tapi dalam pencarian pemenuhan ruang rasa kemanusiaannya itu, manusia-manusia selepas pesta ini ternyata malah jadi menggadaikan aspek manusia mereka. Manusia-manusia selepas pesta ini menjadikan dirinya adalah pusat dari semesta. Mereka lapar akan atensi dari orang-orang. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa jam segini di Kota Bandung yang dingin ini sering bisa kita temui wanita-wanita berbaju ketat dan pendek, sesungguhnya mereka cuma ingin diperhatikan saja ternyata.

Manusia-manusia selepas pesta ini lupa, beberapa meter dari tempat ini, tepat disebarang jalan selalu ada gelandangan yang tidur disana dan berselimutkan kain kotor dan kardus. Beberapa meter dari sini ada orang-orang yang paling saya kagumi sebagai orang-orang paling niat dalam menjalani hidup; mereka adalah tukang sampah yang membersihkan pasar di dini hari agar dapat ditempati oleh para pedagang. Manusia-manusia selepas pesta ini terlalu memfokuskan hidupnya pada dirinya sendiri sampai lupa melihat.

Tapi sesungguhnya hal semacam ini tak cuma terjadi pada manusia-manusia selepas pesta yang memang telah menenggelamkan dirinya dalam hingar bingar hiburan malam sampai lupa melihat sekitar. Hal-hal semacam ini ternyata juga menjangkiti para calon engineer dan intelektual muda di kampus saya. Kita yang terlalu sibuk menjalani hidup sampai lupa mengartikan apa yang paling berarti dari hidup.

Bukan cuma manusia-manusia selepas pesta ini yang meninggalkan kemanusiaannya, kita pun perlahan begitu. Apakah memang kota terlalu kejam sampai hal semacam ini terjadi tanpa kita sadari?

Jika sesuatu yang sudah tidak memenuhi tujuan penciptaannya bisa kita sebut sebagai sampah,  maka manusia yang telah tercerabut akar kemanusiaannya bisa pula kita sebut sampah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 12, 2013 by in Rekayasa Otak and tagged , .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: