aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Kesederhanaan yang Mahal

senjasantolo

Beberapa waktu yang lalu saya dan seorang teman melakukan perjalanan ke Pantai Santolo, Garut. Tapi yang ingin saya rekam di dalam kata-kata ini bukanlah betapa indahnya pantai, laut, langit dan awan yang berarak. Saya kira anda-anda semua bisa saja langsung kesana atau melihat foto tempat itu untuk memahaminya. Yang saya ingin abadikan lewat rekata ini adalah tentang kesederhanaan yang mahal, yang semakin sulit untuk diilhami di tengah kota besar seperti ini tapi ada dimana-mana sepanjang daerah itu.

Bagi saya, ternyata perlu dua jam perjalanan dengan bus ekonomi dari bandung-garut, ditambah 4 jam perjalanan dengan elf dari garut pamempeuk, sekitar 30 menit perjalanan dengan omprengan dari pamempeuk ke santolo dan terjebak di tengah badai untuk dapat kembali mengapresiasi kesederhanaan yang mahal ini. Ya, sekali dua kali saat kita terlarut dalam kebiasaan kehidupan yang menjadikan kita bukan kita ini kita memang butuh diingatkan kembali.

Saya adalah tipikal mayoritas mahasiswa di kota besar, hari-hari pun saya habiskan selayaknya orang-orang kebanyakan. kalaupun melakukan perjalanan saya lebih sering memakai travel, bus ac, kereta kelas bisnis ataupun pesawat terbang. Ya, awal-awal dulu saya memilih moda transportasi itu karena memikirkan keefektifan waktu dan rasa nyaman. Tapi ternyata ada hal yang tergadaikan dari transportasi kelas menengah keatas itu. Disana tidak ada kehangatan. Mayoritas orang-orang sibuk dengan dirinya sendiri, tidak melihat kesekitar, tidak cepat tanggap terhadap lingkungan, intinya kenyamanan dan keefektifan itu ternyata malah menjauhkan kita dari kemanusiaan!

Dari moda transportasi kelas ekonomi menengah kebawah inilah saya ‘ditampar’ tentang beberapa hal. Betapa seorang supir bus ekonomi itu adalah seseorang yang ekstra sabar, betapa pedagang-pedagang asongan yang muncul tiap menit itu adalah orang-orang yang gigih, dan betapa orang tak dikenal yang tak sengaja duduk disamping kita selalu mempunyai cerita yang menarik, betapa tiap dari kita adalah spesial.

Adalah kesederhanaan yang menyenangkan dari bus ekonomi yang penuh sesak dan bau keringat bercampur disana-sini tapi ada orang tak dikenal yang senyum dan sekedar bertanya tentang arah perjalanan dan saling menawarkan jajanan kepada yang sedikit. Sungguh sedikit yang sederhana namun mahal.

Adalah kesederhanaan yang langka yang aku temui dari seorang ibu yang kukenal di elf yang menawariku untuk bermalam di rumahnya, sekedar tidur di bilik bambu dan ngeliwet bareng. Betapa disana aku diingatkan kembali untuk menjadi manusia, dimana satu menolong yang lainnya bukan karena merasa lebih mampu, tapi karena hatinya terpanggil untuk berbagi sesuatu yang kecil, yang sederhana, namun mahal.

Dan betapa di kota hal-hal semacam ini adalah sebuah barang langka. Kita yang terbiasa di kota tak lagi terbiasa melempar senyum dan bertegur sapa dengan orang tak dikenal. Kita ini terbiasa berjalan di atas dunia dengan kepala tegak melihat langit, kita lupa bahwa kita menjejak di bumi ini, berdiri di atas tanah yang sama dan beratapkan langit yang sama. Kita tenggelam dengan kehidupan masing-masing. Dengan kesemuan yang kita ciptakan sendiri, tujuan-tujuan hidup yang kita ciptakan dalam tujuan kompetisi, hidup yang kita jalani dengan tergesa-gesa sampai kita lupa apa yang menjadikan hidup ini berarti.

6 comments on “Kesederhanaan yang Mahal

  1. neirahiwa
    April 9, 2013

    yakin ini yang mau kamu tulis septia? #eh #ups #kabur hahaha

  2. mylittlecanvas
    April 9, 2013

    Itu salah satu alesan kenapa gw suka traveling :))

    • Septia Agustin
      April 12, 2013

      super sepakat kak! gw tenggelam dalam rutinitas kampus dan kota sampai lupa hal-hal semacam ini. untung diingatkan😀

      • mylittlecanvas
        April 20, 2013

        si ‘itu’ diingetin juga ya jangan sampe terlalu sibuk di kampus, huahahaha ;p

      • Septia Agustin
        April 20, 2013

        siap! hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 9, 2013 by in Mesin Waktu and tagged , .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: