aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Kata dan Rasa

kopi

saya selalu berpikir bahwa rasa berada dalam dimensi yang berbeda dengan kata. Dimensi rasa itu lebih rumit, lebih kaya akan makna, lebih tidak tergambarkan. Maka, (mungkin) semenjak manusia ada di dunia ini, kita berusaha mengkomunikan rasa. Seringnya saya sedih dengan pemerkosaan terhadap rasa yang dilakukan oleh kata. Lihat saja, anak muda sekarang sedikit-sedikit memilih kata “galau” atas apapun yang mereka rasakan. Padahal banyak kata-kata yang lain seperti gundah, gulana, resah, sedih dan lain-lain. Keindahan dari rasa yang terkristalkan dalam rasa dikhianati oleh pengucap kata sendiri. entah kenapa, jangan-jangan si pengucap kata tidak memahami rasa-nya sendiri.

Begitupun dalam puisi,prosa ataupun karya sastra lainnya. Saya sering kali merasakan kesedihan yang diguratkan chairil dalam puisi-puisinya ataupun semangat memberontak yang pram sembunyikan dalam novel-novelnya. Mereka tidak pernah mengucapkan sebetuk kata tertentu. Mereka tidak mengucap kata “sedih” agar para pembaca ikut menjadi sedih(dalam konteks rasa). Tetapi mereka berhasil memberikan sebuah kesedihan tertentu yang tidak bisa ditandingi oleh lirik lagu menye-menye masa kini.

Maka, karena “kata” berbeda dengan “rasa”, sebentuk rasa harus bersabar agar menemukan katanya sendiri.Tapi mungkin teman saya benar, “rasa” tidak perlu dipaksakan untuk masuk ke dalam “kata” . “kata” yang mengompres rasa ke dalam suatu bentuk definisi tertentu justru mengekang “rasa” jadi tidak bebas. Apalagi jika si pemilik kata begitu terges mencari kata yang cocok terhadap rasanya. Saya sepakat bahwa, tergesa atau tidak, rasa terlalu bebas dan berharga untuk berada dalam jeruji kata, biar dia terbang dan meresap lewat kelima indera, biar dia menemukan jalannya menuju kalbu, lalu biarkan kalbu yang membicarakan itu “rasa” lewat getaran-getaran intuisi sukma, ataupun senyum tulus dan tatap sendu.

rasa tak perlu temukan wujudnya dalam kata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 30, 2012 by in Mesin Waktu and tagged .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: