aseptia

Memento Mori — Ingat, Kau Pasti Mati

Hari Nusantara — Sebuah Refleksi Bagi Benua Martim Indonesia

phinisi

  1. Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri
  2. Bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan
  3. Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan :
    1. Untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat
    2. Untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan azas negara Kepulauan
    3. Untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI

— Deklarasi Juanda, 13 Desember 1957

satu hal yang harusnya kita sadari, sejarah bergerak dalam jalur yang memutar dan keberadaan kita di lokasi ini dan di detik ini adalah sebentuk dialektika dari semesta sejak semesta ini tercipta. Kita yang hidup di abad ke-21 ini adlah bagian dari perjalanan panjang orang-orang sebelum kita. Mengenal sejarah sama halnya dengan mengenal diri sendiri, menebak pola yang terbentuk dari kejadian-kejadian lampau dan pengaruhnya ke kini dan nanti. toh pada dasarnya diri kita yang ini adalah akumulasi dari makhluk-makhluk dan kejadian sekian tahun yang lampau.

tapi, saya yakin tidak banyak yang ingat apa yang terjadi pada hari ini 55 Tahun yang lalu. ya, generasi kita ternyata (sering) menjalani hari-hari dengan sombong, bermimpi tanpa mau bercermin dan belajar dari kejadian-kejadian lampau. Hari ini, 55 tahun yang lalu adalah pertama kalinya NKRI menggaungkan ke dunia luar tentang prinsip  yang dipegangnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hari ini 55 tahun yang lalu pertama kalinya di deklarasikan prinsip bangsa kita sebagai Negara Kepulauan  dalam Deklarasi Juanda.

Satu bukti betapa kita tidak menghargai sejarah,  Deklarasi Juanda  tersebut terhempas menjadi semacam prinsip kosong selama puluhan tahun. Kejayaan maritim kita ternyata dipudarkan oleh anak bangsa sendiri. Pembangunan selama jaman orde baru yang berorientasi ke darat sukses mematikan visi maritim  kita. Uniknya, ternyata perlu 42 tahun bagi Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini untuk menghargai perlunya kita mengingat prinsip maritim  kita ini. Baru pada tanggal 13 Desember 1999 Presiden K.H Abdurrahman Wahid menetapkan hari ini sebagai hari nusantara dalam rangka menolak lupa terhadap prinsip yang seharusnya menjadi kiblat dalam pembangunan dan pengembangan di Indonesia. Gus Dur pun ternyata menjadi presiden pertama dalam masa pembangunan yang memiliki orientasi kepada laut. Baru di jaman beliau pada akhirnya dibentuk Departemen kelautan dan perikanan. Sebuah ironi yang sangat besar menurut saya, sebuah negeri dengan garis pantai terbesar ketiga di dunia, baru berencana mengelola lautnya dengan benar dalam umurnya yang 44 tahun. betapa tidak bersyukurnya kita akan anugerah laut yang luas dari Allah SWT.

Sebagai (calon) ocean engineer murtad,  kondisi kelautan Indonesia kini memberikan semacam ambisi dan suntikan semangat buat saya sendiri. Makanya, saya sudah menetapkan hati untuk jadi maritime strategic planner. Satu hal yang menjadi cambukan buat saya berasal dari novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer, yang konon Gusdur membentuk Kementtrian Kelautan dan Perikanan pada masanya karena “terpikat” oleh esensi dari novel ini. Secara singkat, buku ini menceritakan tentang kedigdayaan Nusantara sebelum masa-masa kolonialisme dan imperialisme. Bagaimana karakter kita sebagai bangsa pelaut yang kuat dan keras. bagaimana perahu cadik kita sampai hingga ke Afrika sana, bagaimana perdagang-pedagang dan rempah-rempah kita sampai ke negeri-negeri atas angin. namun, suatu waktu, arus kejayaan maritim kita membalik, imperialisme dan kolonialisme masuk, mereka menguasai bandar-bandar dan pantai kita. masyarakat pantai di tekan balik dan dipaksa lari ke gunung, sementara daerah pantai dikuasai oleh kapal-kapal asing.  hingga saat ini, dalam masa 3 abad yang lalu itu kita mulai kehilangan karakter dan budaya kita yang aslinya ada di laut, bukannya di gunung.

Akan tiba saatnya kita semua membalikkan arus dari luar tersebut. Akan tiba saatnya bangsa ini kembali pada hakikatnya sebagai bangsa pelaut dan kembali menguasai lautan hingga ke negeri atas angin sana. Seharusnya kita semua berbangga, Indonesia adalah satu-satunya Benua Maritim di dunia. Lautan tidak dipandang sebagai pemisah antara satu pulau dengan lain, lautan adalah sebuah pemersatu antara daratan yang satu dengan daratan yang lainnya. Secara psikologis sebenarnya konsep ini dapat memberikan sebuah efek yang lebih postif karena  mengajarkan kita untuk lebih memandang persamaan dibanding perbedaan. bukankah itu inti dari Bhineka Tunggal Ika?

Oke, daripada terus menerus mengeluh dan mengutuki keadaan sekarang ada baiknya kita lebih mempersiapkan masa depan laut kita. Lautan kita,yang masih tidak dikelola dengan baik ini, sebenarnya menyimpan potensi konflik yang besar bagi kita dan bagi negara lain apabila tidak dikelola dengan baik. Satu yang harus kita ingat, laut tidak melulu soal “ikan” saja. Ada banyak variabel lainnya tentang laut kita yang masih belum bisa terkelola secar komprehensif. Bahkan, saat ini dalam beberapa dasawarsa ke depan “perang” dari negara-negara maju tidak lagi bernuansa militer ataupun ICT. Satu lagi bahasan yang “seksi” bagi negara-negara yang sudah berpandangan maju ke depan adalah tentang sea control.

Siapa yang dapat menguasai lautan akan menguasai dunia!

Munculnya permasalahan global warming dan penyusutan es di kutub mengancam tenggelamnya ribuan pulau-pulau kecil dan menyusutnya wilayah pantai, hal ini menyebabkan isu perbatasan laut antar negara menjadi semacam isu kritis. Bisa kita ambil contoh dalam kasus pemisahan Timor-Timor dari Indonesia yang lalu, ternyata laut Timor memang menyimpan pesonanya sendiri, disana terdapat cebakan minyak dan gas bumi yang besar. Perkembangan  peningkatan yang pesat terhadap energi-energi fosil yang sebagiannya berada di bawah permukaan laut, pada masa mendatang dapat menjadi titik kritis dalam hubungan internasional.

Today We’ve only explore about 3% of what’s out there in the ocean. Already we’ve found the world’s highest mountains, the world’s deepest valleys, underwater lakes, underwater waterfalls. There’s still 97% percent and either that 97% is empty or just full of surprise –David Gallo 

Selain itu seiring semakin sibuknya alur pelayaran di dunia, yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat konsumsi-konsumsi terutama di negara berkembang,  penguasaan terhadap alur-alur laut atau SLOCs (Sea-Lanes of Communications) yang akan memperpendek jarak berlayar kapal-kapal akan jadi sangat penting. Sayangnya disini Indonesia masih belum bisa memanfaatkan hal ini.

Potensi konflik maritim di masa depan sebenarnya sudah berusaha di bendung oleh PBB melalui UNCLOS yang mentapkan bahwa legalitas klaim batas laut harus masuk ke PBB  pada bulan Mei 209. dalam hal ini, 156 negara telah meratifikasi perjanjian multilateral PBB tersebut. Tapi, ada negara-negara digdaya seperti USA yang tidak meratifikasi pernajian tersebut, dan inilah yang akan menimbulkan permasalahan-permasalahan strategis bagi banyak negara-negara maritim serta negara kepulauan di dalam perlombaan klaim wilayah yang boleh dikatakan sama dahsyatnya dengan saat negara-negara Eropa Barat pada abad ke19 berlomba-lomba mengklaim wilayah -wilayah di seluruh dunia.

Maka dari itu kawan-kawan sekalian, ketahuilah perencanaan terhadap Bangsa ini ke depan tak akan lepas dari kesadaran kita terhadap sejarah dan kondisi asli bangsa ini. jadilah bagian dari kehidupan maritim dan diimana seharusnya orientasi pembangunan kita berada, kita harus dapat mendefinisikan dengan tepat geostrategy, geopolitik dan turunannya berupa geoekonomi. sudah saatnya kita berhenti ‘membeli’ konsep dari asing dan memakai konsep asli bangsa ini ; BANGSA MARITIM. Sudah saatnya kita mengakhiri pola perencanaan dan pembangunan yang berorientasi daratan. Sudah saatnya kita menanggalkan konsep bahwa yang ada di laut cuma ikan. Sudah saatnya pengelolaan laut kita dilakukan secara komprehensif. Saatnya kita kembali jadi bangsa maritim yang jaya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 13, 2012 by in Kuliah and tagged , , , .
Product Logic

Dan Schmidt's thoughts on building products.

The Hardest Science

A psychology blog. Thoughts about the mind, science, society, and whatever else.

Bermatematika

Blog Matematika ala Hendra Gunawan

Bersains

#Bersains

Jejak Kehidupan

"SEringkali hidup ini menyakitkan, seringkali hidup ini membosankan, bahkan seringkali hidup ini mengecewakan. Tetapi dibalik semua itu tersimpan suatu harapan unutk mencapai keberhasilan dan kesuksesan" Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Maritime Cyprus

International Maritime News Forum

Othervisions

there's a life beyond our life, so go out there

LADYKITARI

Writing to reach you.

KATA NYA

"you're here for a reason"

%d bloggers like this: